Jakarta – Sebuah pukulan telak bagi upaya konservasi global: banjir dan longsor dahsyat yang melanda Sumatra akibat Siklon Tropis Senyar pada akhir 2025 lalu telah memicu lonjakan angka kematian pada spesies paling langka di dunia, orangutan Tapanuli. Studi terbaru mengungkap bencana ini telah menggerus populasi mereka hingga membuat kera besar tersebut selangkah lebih dekat menuju jurang kepunahan.
Dampak Mematikan Siklon Tropis Senyar
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal bergengsi Current Biology memaparkan data yang mengejutkan. Ditemukan bahwa sekitar 58 individu orangutan Tapanuli mati akibat tanah longsor yang dipicu oleh hujan ekstrem selama badai. Jumlah ini mungkin terdengar kecil, namun dalam konteks populasi yang sangat terbatas, angka ini sangat signifikan.
Korban jiwa tersebut mewakili sekitar 11% dari populasi yang mendiami wilayah terdampak langsung, atau setara dengan 7% dari total populasi spesies ini di alam liar. Angka ini pun dinilai konservatif oleh para peneliti karena belum memperhitungkan dampak tak langsung seperti kerusakan kanopi hutan dan kelangkaan sumber makanan pasca-bencana.
Populasi di Ujung Tanduk: Status ‘Critically Endangered’
Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) adalah spesies kera besar yang baru diidentifikasi secara ilmiah pada tahun 2017. Habitatnya yang sangat terbatas di ekosistem Batang Toru, Sumatra Utara, membuatnya menjadi spesies orangutan paling langka. Saat ini, kurang dari 800 individu tersisa di alam liar.
Status konservasi mereka di IUCN Red List sudah berada di level ‘Critically Endangered’ (Kritis) bahkan sebelum bencana ini terjadi. Temuan studi ini menjadi bukti nyata betapa perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem dapat menjadi ancaman langsung dan mendadak bagi kelangsungan hidup satwa liar yang sudah terdesak.
Analisis Ahli: Tingkat Kematian di Luar Batas Toleransi
Profesor Sergei Vich, seorang ahli primatologi dari Liverpool John Moore University dan salah satu penulis studi, menekankan skala dahsyat dari peristiwa ini. Dalam wawancaranya, ia menjelaskan bahwa spesies dengan populasi sekecil ini memiliki ambang batas kematian yang sangat ketat untuk bisa pulih.
“Jadi, jika terjadi peristiwa di mana sekitar 58 individu terbunuh dari 580, itu sekitar 10 sampai 11% dari populasi di sana dan 7% dari total populasi spesies tersebut,” jelas Prof. Vich. “(Tingkat kematian) itu jauh melampaui kemampuan hewan-hewan ini untuk bertahan. Jadi ini adalah peristiwa yang sangat besar.” Para peneliti mengindikasikan bahwa spesies ini terancam punah jika populasinya berkurang lebih dari 1% dalam satu tahun, menjadikan kematian massal akibat badai ini sebagai bencana ekologis yang luar biasa.
Kerentanan di Tengah Krisis Iklim
Meskipun Siklon Tropis Senyar dikategorikan sebagai peristiwa cuaca anomali, para ilmuwan menegaskan bahwa krisis iklim yang dipicu oleh aktivitas manusia memperbesar frekuensi dan intensitas kejadian semacam ini. Ketika badai ekstrem menerjang habitat yang sudah terfragmentasi oleh pembangunan dan deforestasi, spesies endemik seperti orangutan Tapanuli tidak memiliki tempat untuk melarikan diri.
Kehancuran ini sekaligus menjadi peringatan keras tentang betapa rentannya spesies yang baru ditemukan ini. Tanpa intervensi yang cepat dan efektif, skenario terburuk bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan semakin mendekati kenyataan.
Menyikapi krisis ini, tim peneliti mendesak adanya kerja sama internasional yang solid. “Melalui penguatan perlindungan domestik, perencanaan yang responsif terhadap perubahan iklim, serta bantuan keuangan dan teknis dari global, kita masih dapat mencegah kepunahan modern pertama dari spesies kera besar,” tulis mereka dalam studi tersebut. Nasib populasi yang tersisa kini sangat bergantung pada seberapa serius dunia menanggapi peringatan dari alam ini.
