Pemerintah Indonesia menegaskan babak baru pemerataan infrastruktur digital: tidak lagi sekadar ‘yang penting ada sinyal’, tetapi memastikan kualitas dan kecepatan internet yang mumpuni di seluruh pelosok negeri. Pergeseran fokus dari kuantitas akses menjadi kualitas konektivitas ini disampaikan langsung oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam kunjungan ke Pulau Maratua.
Evolusi Kebijakan: Dari Nawa Cita ke Asta Cita
Direktur Utama Bakti Komdigi, Fadhilah Mathar, memaparkan perbedaan pendekatan antara dua masa pemerintahan. “Waktu Nawa Cita dulu, Bapak Presiden Jokowi menyampaikan bahwa yang penting akses masuk terlebih dahulu,” ujarnya. Kini, di bawah visi Asta Cita Presiden Prabowo, arahnya lebih progresif: bukan hanya ada akses, tetapi tidak boleh ada sinyal yang lemah.
Perubahan kebijakan ini mendorong Bakti untuk tidak lagi sekadar membangun titik akses baru, melainkan meningkatkan kapasitas infrastruktur yang sudah lebih dulu hadir di berbagai daerah 3T. Langkah ini diyakini akan mempercepat inklusi digital yang lebih merata dan berkualitas.
Standar Kecepatan Baru: Minimal 6–8 Mbps
Sebagai wujud komitmen tersebut, Bakti menaikkan standar kecepatan internet di seluruh titik layanannya. Fadhilah merinci, “Yang awalnya 1 titik akses kami itu berkapasitas 2 Mbps, sekarang minimal sudah di angka 6 hingga 8 Mbps.” Artinya, kecepatan internet gratis di fasilitas publik seperti sekolah, puskesmas, dan kantor desa kini setidaknya tiga hingga empat kali lipat lebih baik.
Peningkatan ini bukan hanya soal angka, tetapi juga pengalaman pengguna. Dengan bandwidth yang lebih besar, aktivitas belajar-mengajar daring, telemedicine, hingga layanan administrasi desa dapat berjalan lebih lancar tanpa gangguan buffering atau koneksi putus-nyambung.
Infrastruktur: 31.863 Titik Wi-Fi Gratis dan 6.747 BTS 4G
Secara nasional, Bakti telah mengaktifkan akses internet gratis (Wi-Fi) di 31.863 lokasi layanan publik. Selain itu, sebanyak 6.747 menara BTS 4G telah dibangun khusus untuk menjangkau wilayah yang secara komersial tidak menarik bagi operator seluler swasta. Keberadaan BTS ini menjadi tulang punggung konektivitas di daerah-daerah yang selama ini luput dari perhatian pasar.
Fokus pembangunan tidak lagi hanya mengejar jumlah titik, tetapi memastikan setiap titik yang ada mampu memberikan layanan prima. Bakti juga terus memantau kualitas sinyal secara berkala agar tidak ada lagi wilayah yang hanya mendapatkan sinyal sekadarnya.
Tantangan dan Peran Satelit Satria-1
Mengejar kualitas internet di wilayah 3T tentu bukan tanpa rintangan. Fadhilah mengungkapkan bahwa di masa lalu, kendala terbesar bukan semata anggaran, melainkan infrastruktur pendukung. Contoh nyata terjadi di Papua, di mana Bakti siap membangun namun terhambat oleh ketiadaan kapasitas satelit yang memadai.
Hambatan itu kini mulai terurai setelah pemerintah meluncurkan Satelit Satria-1 pada awal 2024. Satelit berkapasitas besar ini menjadi solusi backhaul untuk daerah yang sulit dijangkau kabel fiber optik, memungkinkan internet berkualitas tinggi hadir hingga ke pulau-pulau terpencil dan pegunungan terisolasi.
Target 2029: Cakupan Geografis Tanpa Putus
Prioritas utama Bakti dalam waktu dekat adalah menuntaskan 100% konektivitas di seluruh wilayah permukiman. Setelah itu, pada periode 2020 hingga 2029, pemerintah menargetkan cakupan geografis. “Geografis artinya di mana pun kita lewat—di jalan, di gunung, di hutan, bahkan di laut—sinyal itu tidak akan terputus,” tegas Fadhilah.
Ambisi ini menandakan bahwa konektivitas digital akan menjadi infrastruktur dasar yang setara dengan listrik dan air bersih. Dengan sinyal yang stabil di mana saja, masyarakat di ujung negeri tak lagi terisolasi secara digital, membuka peluang ekonomi baru dan memperkuat ketahanan sosial.
Pergeseran fokus dari sekadar ada sinyal menjadi kualitas konektivitas adalah langkah strategis yang menjawab kebutuhan zaman. Di era ekonomi digital, internet bukan lagi barang mewah, melainkan hak dasar yang menentukan kemajuan daerah. Komitmen Bakti dan dukungan satelit Satria-1 diharapkan mampu mewujudkan Indonesia yang terkoneksi tanpa sekat, sehingga tidak ada lagi warga yang tertinggal hanya karena lemahnya sinyal.









