NASA bersiap menjalankan misi penyelamatan dramatis pada 27 Juni 2026. Teleskop luar angkasa Neil Gehrels Swift Observatory—aset berharga yang telah mengamati langit sejak 2004—kini terancam jatuh ke Bumi karena orbitnya menurun lebih cepat dari perkiraan. Misi Swift Boost akan melibatkan wahana derek bernama Link untuk mengangkat observatorium itu ke ketinggian yang aman.
Mengapa Teleskop Swift Terancam Jatuh?
Satelit dan wahana antariksa lazim kehilangan ketinggian seiring waktu akibat tarikan atmosfer. Namun, Swift kehilangan orbit jauh lebih cepat dibanding satelit sejenis. NASA menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas matahari membuat atmosfer bagian atas mengembang, sehingga tarikan terhadap Swift menjadi lebih besar dari yang diprediksi. Tanpa mesin pendorong sendiri, teleskop ini tidak bisa mengoreksi posisinya.
“Tidak masalah jika wahana antariksa biasa keluar dari orbit. Tetapi ini bukan sembarang wahana luar angkasa,” ujar Shawn Domagal-Goldman, Direktur Divisi Astrofisika NASA. Pernyataan itu menegaskan nilai ilmiah Swift yang tak tergantikan.
Misi Swift Boost: Teknologi Deregulasi Orbit
Inti dari misi ini adalah wahana bernama Link, sebuah derek luar angkasa yang dirancang khusus untuk merapat dan memindahkan satelit yang kehabisan bahan bakar. Pada 9 Juni, teknisi NASA di Wallops Flight Facility, Virginia, selesai memasang Link ke roket Northrop Grumman Pegasus XL. Roket itu kemudian dipasangkan ke pesawat pembawa Stargazer.
Pada 27 Juni, Stargazer akan lepas landas dari Atol Kwajalein di Samudera Pasifik Selatan. Pesawat akan membawa Pegasus XL ke ketinggian 40.000 kaki, lalu melepaskannya. Roket akan jatuh bebas sejenak sebelum menyalakan mesin dan membawa Link ke orbit Swift dalam waktu sekitar 10 menit. Setelah docking, Link akan melakukan serangkaian manuver untuk mendorong teleskop ke orbit yang lebih tinggi dan stabil.
Peran Katalyst Space dalam Penyelamatan
Misi ini merupakan kolaborasi antara NASA dan perusahaan swasta Katalyst Space. Perusahaan itu menyediakan teknologi Link yang memungkinkan layanan perpanjangan masa pakai satelit tanpa harus meluncurkan wahana baru. Pendekatan ini dianggap lebih efisien untuk menyelamatkan aset antariksa bernilai tinggi.
Kemitraan dengan sektor swasta menjadi strategi NASA dalam beberapa tahun terakhir untuk menekan biaya dan memanfaatkan inovasi komersial. Jika berhasil, Swift Boost bisa menjadi model bagi misi perbaikan orbit di masa depan.
Swift: Observatorium Serbaguna dengan Sejarah Panjang
Neil Gehrels Swift Observatory diluncurkan pada 2004 dengan misi awal mengamati ledakan sinar gamma—fenomena paling dahsyat di alam semesta. Namun, kemampuannya berputar cepat membuatnya bisa menangkap berbagai peristiwa astrofisika lain, dari supernova hingga lubang hitam yang sedang “menyala”.
Awalnya direncanakan beroperasi hanya dua tahun, Swift justru melampaui dua dekade pengabdian. Keunikan observatorium ini terletak pada kecepatan reaksinya: begitu mendeteksi ledakan sinar gamma, Swift bisa berputar dalam hitungan menit untuk mengarahkan teleskopnya ke sumber kejadian. Data yang dikumpulkannya telah membantu ribuan penelitian astronomi.
Harapan NASA Setelah Penyelamatan
Jika misi Swift Boost berjalan lancar, NASA memperkirakan teleskop akan bertahan di orbit setidaknya lima tahun lagi, bahkan mungkin lebih. Dengan orbit yang kembali aman, Swift bisa terus menjadi mata langit yang siap menangkap kejutan kosmis setiap saat.
Misi ini menjadi pengingat bahwa aset sains di luar angkasa tidak selalu tergantikan begitu saja. Upaya penyelamatan seperti Swift Boost menunjukkan komitmen untuk memaksimalkan investasi pengetahuan yang telah dibangun selama puluhan tahun.









