Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Telkomsel mempertegas langkahnya menuju operasional yang lebih ramah lingkungan. Perusahaan telekomunikasi ini mengungkapkan bahwa sebanyak 361 Base Transceiver Station (BTS) kini telah menggunakan energi terbarukan, sejalan dengan strategi bisnis berkelanjutan yang mereka usung.

361 BTS Beralih ke Energi Bersih
Telekomunikasi membutuhkan infrastruktur yang masif, dan BTS menjadi tulang punggung layanan. Telkomsel mencatat 361 BTS di berbagai lokasi kini memanfaatkan sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya, untuk mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk menekan emisi karbon dan mendorong industri telekomunikasi yang lebih hijau.
Angka ini menjadi tonggak penting di tengah meningkatnya kesadaran global akan krisis iklim. Dengan mengadopsi energi bersih pada infrastruktur kritikalnya, Telkomsel tidak hanya memangkas jejak lingkungan tetapi juga menginspirasi pelaku industri lain untuk mengikuti jejak serupa.
Tiga Pilar Keberlanjutan: Jaga Cita, Jaga Data, Jaga Bumi
Dalam menjalankan misi keberlanjutannya, Telkomsel mengandalkan tiga pilar strategis yang disebut Jaga Cita, Jaga Data, dan Jaga Bumi. Pilar Jaga Cita fokus pada pemberdayaan masyarakat dan perluasan akses digital ke pelosok desa, memastikan teknologi hadir untuk semua. Jaga Data menekankan tata kelola keamanan data pelanggan sesuai standar internasional, menjawab kepercayaan di era digital. Sementara Jaga Bumi menjadi payung bagi inisiatif lingkungan, termasuk penggunaan energi terbarukan dan pengelolaan limbah elektronik secara bertanggung jawab.
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menegaskan bahwa pertumbuhan perusahaan tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan lingkungan dan masyarakat. “Telkomsel meyakini bahwa perusahaan tidak mungkin maju sendirian tanpa lingkungan dan masyarakat di sekitarnya ikut berkembang,” ujarnya di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Dukungan dan Apresiasi dari Pemerintah
Komisaris Utama Telkomsel yang juga menjabat Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz F.M. Hendropriyono, melihat langkah ini sebagai bukti kepedulian sektor non-ekstraktif terhadap isu lingkungan. “Perubahan iklim adalah tantangan nyata yang dampaknya sudah dan akan semakin dirasakan. Dunia usaha perlu mengambil peran lebih besar untuk mendorong praktik yang lebih hijau dan berkelanjutan,” kata Diaz.
Ia mengapresiasi konsistensi Telkomsel yang tetap menjalankan program keberlanjutan meski tidak bergerak di industri ekstraktif. Menurutnya, perusahaan yang menjaga keberlanjutan akan semakin dipercaya dan memiliki nilai tambah di mata masyarakat, terutama generasi masa depan.
Melayani Lebih dari 166 Juta Pelanggan dengan Inklusivitas
Di balik agenda hijaunya, Telkomsel terus memperluas jangkauan layanan digital. Saat ini perusahaan melayani lebih dari 166 juta pelanggan dan aktif merambah desa-desa yang sebelumnya blank spot. Inklusivitas ini menjadi bagian dari pilar Jaga Cita, memastikan bahwa transformasi digital tidak meninggalkan siapa pun di belakang, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di daerah terpencil.
Nugroho menambahkan, “Kami telah dan akan terus berinovasi dan berkembang agar kontribusi keberlanjutan Telkomsel semakin terasa, baik dari sisi jangkauan maupun kualitas dampaknya.”
Langkah Telkomsel memperlihatkan bahwa perusahaan teknologi besar dapat menjadi motor penggerak keberlanjutan. Di tengah kebutuhan konektivitas yang terus tumbuh, inisiatif seperti ini menjadi penting untuk memastikan bahwa kemajuan digital tidak mengorbankan bumi. Bagi konsumen, ini juga menjadi sinyal bahwa memilih layanan yang bertanggung jawab secara lingkungan kini semakin mudah dan nyata.









