Keamanan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat diperketat secara masif. Otoritas setempat melaporkan telah menyita lebih dari 300 drone tak berizin yang beroperasi di sekitar stadion dan zona penggemar sejak turnamen bergulir. Langkah tegas ini diambil untuk mencegah potensi ancaman terorisme dan menjaga keselamatan publik di tengah pesta sepak bola terbesar dunia.
Zona Larangan Terbang yang Sangat Ketat
Demi menciptakan ruang udara yang steril, pembatasan penerbangan sementara (Temporary Flight Restrictions/TFR) diterapkan secara ketat. Pada hari pertandingan, semua operasi penerbangan tanpa izin, termasuk drone, dilarang beroperasi dalam radius sekitar 4,8 kilometer dari stadion. Larangan ini juga berlaku hingga ketinggian kurang lebih 900 meter, mencakup area fan zone yang dipadati pendukung.
Aturan ini bukan sekadar imbauan. Tim Biro Investigasi Federal (FBI) ditempatkan di sekitar venue untuk mendeteksi dan melumpuhkan drone yang mencurigakan. Setiap pelanggaran dianggap sebagai kejahatan federal serius yang tidak bisa ditoleransi.
Sanksi Berat Menanti Pelanggar
Konsekuensi bagi operator drone yang nekat menerobos zona terlarang sangatlah berat. Selain perangkat drone dan alat pengendalinya disita, pelanggar dapat dikenai denda hingga USD 100.000 atau setara dengan lebih dari Rp1,5 miliar. Tidak hanya sanksi administratif, pelaku juga terancam menghadapi tuntutan pidana sesuai hukum Amerika Serikat.
Juru bicara Transportation Security Administration (TSA) menegaskan bahwa penindakan dilakukan secara cepat dan proaktif. Otoritas menyebut pengamanan wilayah udara dan upaya mitigasi drone pada Piala Dunia FIFA 2026 ini sebagai yang paling komprehensif dalam sejarah AS.
Insiden Mata-mata dan Operasi Gabungan
Salah satu operasi penyitaan terbesar terjadi di Kansas City, Missouri. FBI bekerja sama dengan lembaga penegak hukum lainnya menyita delapan drone beserta alat pengendalinya yang melanggar pembatasan di Stadion Kansas City dan zona penggemar. Dua operator drone juga diberikan surat pemberitahuan pelanggaran.
Kekhawatiran terhadap spionase juga terbukti beralasan. Militer Meksiko dilaporkan mencegat dan menjatuhkan sebuah drone tak terdaftar yang terbang di atas markas latihan timnas Korea Selatan di Guadalajara. Insiden ini menimbulkan kecurigaan aksi mata-mata, mengingat Korea Selatan dan Meksiko merupakan kontestan di turnamen ini.
Belajar dari Kasus Timnas Wanita Kanada
Langkah antisipatif otoritas Piala Dunia 2026 ini bukan tanpa preseden. Pada tahun 2024, dunia sepak bola digemparkan oleh skandal spionase yang melibatkan timnas wanita Kanada. Mereka kedapatan menggunakan drone untuk memata-matai sesi latihan timnas Selandia Baru menjelang laga pembuka Olimpiade Paris.
Akibat perbuatannya, pelatih kepala Bev Priestman dipecat oleh Federasi Sepak Bola Kanada, dan dua anggota staf pelatih diskors. Tim peraih medali emas Olimpiade 2020 itu pun harus menerima sanksi berat berupa pengurangan enam poin di turnamen tersebut, mencoreng reputasi mereka secara signifikan.
Penyitaan ratusan drone ini menegaskan bahwa keamanan siber dan fisik adalah prioritas utama di era olahraga modern. Di tengah sorotan terhadap aksi para bintang di lapangan, keberhasilan otoritas menjaga ruang udara yang bersih menjadi fondasi penting agar euforia Piala Dunia 2026 dapat dinikmati dengan aman tanpa gangguan dari ancaman tak kasat mata.









