Kisah Peneliti BRIN Temukan Cap Tangan Tertua Dunia di Muna

goodside
6 Min Read

Prestasi membanggakan datang dari dunia arkeologi Indonesia. Sebuah lukisan gua berupa cap tangan prasejarah yang ditemukan di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, resmi dinobatkan sebagai lukisan cadas non-figuratif tertua di dunia oleh Guinness World Records (GWR). Di balik pengakuan global tersebut, tersimpan kisah panjang dan rasa penasaran mendalam dari seorang peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Adhi Agus Oktaviana, yang telah memburu artefak purba ini selama lebih dari satu dekade.

Awal Mula Perburuan di Gua Liang Metanduno

Kisah ini bermula pada tahun 2015. Saat itu, Dr. Adhi yang merupakan pakar arkeometri, terlibat dalam proyek pembuatan buku gambar cadas prasejarah Indonesia. Ia ditugaskan untuk menelusuri kawasan Muna bersama tim dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta mendiang pakar prasejarah, Pindi Setiawan.

Dalam persiapannya, ia mempelajari berbagai laporan penelitian terdahulu. Gua Liang Metanduno tercatat sebagai salah satu gua terbesar dengan koleksi lukisan prasejarah paling kaya. Namun, ada satu kejanggalan yang mengusik pikirannya: tidak ada satu pun laporan yang menyebutkan keberadaan lukisan cap tangan di sana. “Saya kok penasaran gitu. Kenapa di Gua Metanduno belum ada laporan (cap tangan)?” kenangnya.

Penemuan Pertama yang Samar dan Penuh Perdebatan

Rasa penasaran itu mendorong Adhi dan tim untuk menyusuri lebih dalam gua tersebut. Di langit-langit sebuah bongkahan batu besar atau boulder runtuhan gua, mereka pertama kali menemukan tiga buah cap tangan. Namun, kondisinya sangat aus dan nyaris tak terlihat jelas.

Samarnya visual cap tangan itu sempat memicu perdebatan kecil di antara anggota tim. Meski begitu, Dr. Adhi tetap yakin bahwa itu adalah jejak tangan manusia purba. Keyakinannya membawanya untuk terus mencari ke area yang lebih gelap dan tersembunyi di bagian belakang gua, sebuah keputusan yang akhirnya membuahkan hasil manis.

Kunci Penanggalan di Balik Lapisan Mineral

Di dinding sebelah kanan dan langit-langit gua, tim menemukan deretan cap tangan yang tampak berbeda. Gambar-gambar itu tertutup oleh lapisan mineral gua yang disebut coraloid speleothem. Lapisan ini tumbuh secara merata dan masif di atas lukisan, menandakan proses geologis yang berlangsung sangat lama.

Keberadaan speleothem inilah yang menjadi kunci utama untuk menguak usia sebenarnya dari karya seni cadas tersebut. Dengan menganalisis peluruhan uranium pada lapisan mineral yang menutupi cap tangan, para peneliti dapat memperkirakan kapan terakhir kali lukisan itu tersentuh oleh manusia purba.

Kejutan Usia yang Melampaui Ekspektasi

Saat pertama kali ditemukan, Adhi sama sekali tidak menyangka bahwa temuannya akan memecahkan rekor dunia. Pada masa itu, berdasarkan data publikasi tahun 2014, lukisan serupa di kawasan lain rata-rata “hanya” berusia sekitar 17.000 hingga 20.000 tahun. Ekspektasinya pun tidak muluk-muluk. “Menurutku mungkin ya enggak setua 40.000 tahun lah,” ujarnya.

Namun, hasil analisis laboratorium memberikan kejutan besar. Usia minimal cap tangan di Gua Liang Metanduno ternyata menembus angka 67.800 tahun. Ini menjadikannya sebagai bukti seni non-figuratif tertua yang pernah ditemukan di muka bumi, menggeser berbagai temuan serupa dari belahan dunia lain.

Drama di Balik Layar: Tertundanya Analisis Akibat Perang

Perjalanan menuju pengakuan Guinness World Records bukanlah tanpa hambatan. Proses penanggalan yang presisi membutuhkan teknologi canggih dan kolaborasi dengan laboratorium internasional. Namun, situasi geopolitik global ikut memengaruhi riset ini.

Proses analisis sampel sempat tertunda cukup lama akibat pecahnya perang di Ukraina, yang mengganggu rantai kerja sama ilmiah dan logistik penelitian. Kendala tak terduga ini menjadi drama tersendiri yang menguji kesabaran para peneliti. Beruntung, ketekunan mereka membuahkan hasil setelah situasi kembali kondusif dan data akhirnya bisa divalidasi secara resmi oleh lembaga pencatat rekor dunia.

Dampak Penemuan bagi Peta Peradaban Dunia

Penobatan ini bukan sekadar gelar rekor, melainkan sebuah koreksi besar terhadap peta migrasi dan perkembangan kognitif manusia modern. Selama ini, Eropa kerap dianggap sebagai pusat kelahiran seni gua. Temuan di Sulawesi ini membuktikan bahwa tradisi melukis di dinding gua telah berkembang di Asia Tenggara pada periode yang sama tuanya, bahkan lebih awal untuk kategori tertentu.

Lukisan non-figuratif seperti cap tangan sering dikaitkan dengan simbolisme awal dan identitas kelompok. Keberadaannya di Indonesia menegaskan bahwa Nusantara adalah salah satu panggung utama dalam evolusi budaya manusia purba. Berikut adalah beberapa poin penting dari temuan ini:

  • Usia cap tangan minimal 67.800 tahun, dihitung menggunakan metode penanggalan uranium-series pada lapisan speleothem.
  • Lokasi penemuan berada di Gua Liang Metanduno, kawasan karst Muna, Sulawesi Tenggara.
  • Temuan ini mematahkan dominasi Eropa sebagai pusat seni gua tertua, menempatkan Indonesia di garis depan studi arkeologi global.
  • Pengakuan resmi diberikan oleh Guinness World Records sebagai lukisan cadas non-figuratif tertua di dunia.

Kisah di balik penemuan cap tangan tertua dunia di Muna ini mengajarkan kita bahwa rasa penasaran dan ketekunan adalah bahan bakar utama sebuah penemuan besar. Dari sekadar mempertanyakan kekosongan data di sebuah laporan, Dr. Adhi dan timnya berhasil mengangkat warisan Nusantara ke panggung peradaban dunia. Penemuan ini bukan hanya memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, tetapi juga memperkuat identitas Indonesia sebagai pemilik salah satu akar budaya manusia tertua di planet ini.

Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *