
Curhat Ruben Onsu: Sulit Akses Bertemu Anak meski Ada Putusan Hukum
Ruben Onsu akhirnya buka suara soal kerumitan yang ia hadapi dalam mengakses pertemuan dengan anak-anaknya pasca-perceraian dengan Sarwendah. Meski sudah ada ketetapan hukum yang berlaku, mantan pembawa acara tersebut mengaku masih sering menemui jalan buntu. Rasa lelah dan frustrasi pun tak bisa ia sembunyikan saat menceritakan pengalamannya di hadapan awak media.
Kesulitan Akses Bertemu Anak di Tengah Aturan yang Berlaku
Ruben mengungkapkan bahwa upayanya untuk bertemu buah hati tidak semulus yang dibayangkan. Salah satu contohnya adalah ketika ia berusaha menjemput langsung anak-anaknya di sekolah. Harapan untuk bisa menghabiskan waktu bersama justru terganjal aturan administrasi yang mengharuskan adanya persetujuan dari pihak tertentu.
“Itu sudah pernah. Saya hubungi pihak sekolah, tapi memang harus ada persetujuan dulu,” ujar Ruben Onsu, menceritakan pengalaman pahitnya. Ia menegaskan bahwa keinginannya sederhana: bisa berjalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama anak-anaknya. “Tapi yang saya mau, saya maunya jalan sama anak-anak saya saja. Itu saja. Itu yang enggak dapat-dapat,” keluhnya.
Kondisi ini semakin memberatkan karena sebenarnya payung hukum sudah tersedia. Namun pada praktiknya, Ruben masih menemui kendala yang membuatnya tidak bisa leluasa menjalankan peran sebagai ayah. Ia pun berharap ada intervensi dari lembaga perlindungan anak demi memperlancar komunikasi ke depan.
Urusan Hukum Sepenuhnya ke Pengacara Demi Satu Suara
Untuk menghindari simpang siur informasi di ruang publik, Ruben Onsu memutuskan menyerahkan seluruh urusan hukum kepada kuasa hukumnya, Minola Sebayang. Ia ingin setiap pernyataan yang keluar hanya berasal dari satu pintu. “Biar Bang Minola yang jawab. Kalau itu sudah pasti ada, kita sudah atur sama Bang Minola semua,” kata Ruben.
Dengan langkah ini, Ruben berharap tidak ada lagi tafsir yang berbeda-beda mengenai situasi yang sebenarnya. Ia sadar bahwa masalah yang dihadapinya sudah cukup rumit, sehingga diperlukan satu suara yang jelas agar tidak memperkeruh suasana. “Pokoknya nanti diserahkan ke Bang Minola saja, jadi biar satu suara,” sambungnya.
Harapan Mediasi dan Kepatuhan pada Putusan Pengadilan
Meski ketegangan masih terasa, Ruben Onsu mengaku tetap menginginkan hubungan yang baik dengan semua pihak. Ia menilai informasi yang selama ini beredar belum sepenuhnya mencerminkan kondisi yang sesungguhnya. “Ya semuanya pasti maunya yang baik-baik,” ucapnya singkat.
Mengenai wacana damai yang kerap dihembuskan, Ruben memandang kuncinya sangat sederhana: patuh pada keputusan pengadilan yang sudah ditetapkan. Ia menyinggung pembagian waktu yang seharusnya dijalankan sesuai kesepakatan. “Ya damai sebenarnya harus. Sebenarnya gampang, tinggal ditaati saja yang sudah ada. Ada empat hari bersama beliau, tiga hari bersama saya. Itu saja,” jelasnya.
Pernyataan ini sekaligus menjadi sorotan bahwa mediasi bukanlah hal mustahil, asalkan semua pihak mau menghormati koridor hukum yang berlaku. Bagi Ruben, kepatuhan itu adalah jalan tengah yang paling masuk akal agar anak-anak tetap bisa merasakan kasih sayang dari kedua orang tua.
Komitmen Ruben Onsu sebagai Ayah
Di tengah segala keterbatasan, Ruben Onsu berjanji akan tetap berusaha menjalankan peran sebagai ayah sebaik-baiknya. Ia tidak ingin persoalan administratif atau perbedaan pandangan dengan mantan istri menggerus haknya untuk dekat dengan anak-anak. “Saya akan lakukan apa pun untuk anak-anak saya,” tegasnya.
Harapannya, akan ada dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari lembaga yang fokus pada perlindungan anak, agar proses komunikasi bisa kembali terbuka. Ruben percaya bahwa anak adalah korban paling rentan dalam situasi seperti ini, sehingga semua keputusan harus mengutamakan kepentingan terbaik mereka.
Kisah Ruben Onsu menjadi cerminan betapa peliknya dinamika hak asuh pasca-perceraian, terutama bagi figur publik yang setiap gerak-geriknya menjadi konsumsi masyarakat. Kasus ini mengingatkan kita bahwa putusan pengadilan seharusnya menjadi pedoman bersama, bukan sekadar dokumen yang diabaikan. Di balik sorotan kamera, ada anak-anak yang merindukan kehadiran kedua orang tuanya tanpa beban konflik orang dewasa.








