Vertu akhirnya memasuki pasar ponsel lipat dengan merilis AlphaFold, smartphone foldable bergaya buku yang langsung mencuri perhatian bukan hanya karena bentuknya, tetapi juga karena banderol harganya yang mencapai Rp 616 juta. Perangkat ini memadukan material supermewah seperti emas 18 karat, berlian, dan kulit buaya dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang diklaim mampu mengelola puluhan aplikasi sekaligus.
Desain Mewah: Berlian, Emas 18 Karat, dan Kulit Buaya
AlphaFold tidak sekadar ponsel lipat premium; ia adalah pernyataan status. Vertu membalut bodinya dengan material langka yang sudah menjadi ciri khas merek ini. Emas 18 karat dan berlian tersemat di beberapa bagian, sementara panel belakang dilapisi kulit buaya asli. Kombinasi ini menjadikan setiap unit AlphaFold terasa seperti aksesori fesyen kelas atas, bukan sekadar alat komunikasi.
Pendekatan desain ini melanjutkan tradisi Vertu yang sejak awal memang menyasar kalangan superkaya. Dengan harga setara mobil baru, ponsel ini jelas tidak ditujukan untuk pasar massal, melainkan untuk kolektor dan eksekutif yang menginginkan perangkat eksklusif.
Agen AI Hermes: Otak Produktivitas di Balik Layar Lipat
Di balik kemewahan fisiknya, Vertu menanamkan agen AI bernama Hermes yang menjadi nilai jual utama AlphaFold. Hermes berjalan langsung di perangkat (on-device) dan dirancang untuk menangani tugas-tugas produktivitas kompleks. Ia mampu meninjau dan merangkum dokumen, mengelola lebih dari 70 aplikasi secara bersamaan, hingga menjalankan dashboard eksekutif yang biasanya memerlukan asisten manusia.
Vertu mengklaim bahwa Hermes bisa menjadi “asisten digital” yang memahami konteks pekerjaan pengguna. Jika ada tugas yang tidak bisa diselesaikan AI, pengguna tetap dapat mengandalkan layanan concierge 24 jam khas Vertu—sebuah sentuhan manusia yang melengkapi kecanggihan mesin.
Spesifikasi Flagship: Snapdragon 8 Elite, Baterai 6.500 mAh, dan Kamera 50 MP
AlphaFold tidak hanya mengandalkan kemewahan; dapur pacunya juga tergolong bertenaga. Smartphone ini ditenagai chipset Snapdragon 8 Elite, prosesor flagship yang masih sangat kompeten untuk menjalankan aneka aplikasi berat dan multitasking di layar besarnya. Layar utama berukuran 8,05 inci dan layar penutup 6,53 inci memberikan ruang lega untuk bekerja maupun menikmati konten.
Daya tahan baterai juga menjadi perhatian. Vertu membekali AlphaFold dengan baterai silikon-karbon 6.500 mAh yang diklaim mampu bertahan hingga 28 jam penggunaan. Teknologi pengisian cepat 65 watt memungkinkan baterai terisi 50 persen hanya dalam waktu sekitar 20 menit. Di sektor fotografi, terdapat tiga kamera belakang: kamera utama 50 MP dengan OIS, kamera ultrawide 50 MP, dan kamera telefoto—cukup untuk mengabadikan momen tanpa kompromi.
Keamanan Berlapis dan Komunikasi Satelit
Mengingat target penggunanya yang kerap menangani data sensitif, Vertu menyematkan chip keamanan A5 yang menyimpan kredensial dan kunci kriptografi secara terpisah dari sistem utama. Agen AI Hermes juga dibatasi agar tidak bisa melakukan transfer dana atau mengubah data penting tanpa persetujuan eksplisit pengguna, sehingga potensi penyalahgunaan dapat diminimalkan.
Fitur lain yang menonjol adalah dukungan komunikasi satelit dua arah. Dengan kemampuan ini, pengguna AlphaFold tetap bisa terhubung meski berada di luar jangkauan jaringan seluler—fitur yang sangat berguna bagi para pelancong ekstrem atau pemilik kapal pesiar yang sering menjelajah lautan lepas.
Harga Fantastis dan Target Pasar
Dengan banderol Rp 616 juta, Vertu AlphaFold jelas berada di strata tertinggi pasar smartphone. Harga ini mencerminkan bukan hanya material langka dan teknologi mutakhir, tetapi juga eksklusivitas dan layanan purnajual ala Vertu. Bagi sebagian orang, ponsel ini adalah simbol keberhasilan; bagi yang lain, ini adalah alat kerja supercanggih yang memadukan asisten AI dengan sentuhan personal.
Kehadiran AlphaFold menegaskan bahwa inovasi di dunia ponsel lipat tidak melulu soal layar lentur atau kamera periskop. Vertu membuktikan bahwa kemewahan absolut dan kecerdasan buatan bisa berjalan beriringan dalam satu genggaman—meski hanya segelintir orang yang bisa memilikinya.









