Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa sekitar 90% trafik internet Indonesia masih bergantung pada Singapura. Ketergantungan ini dinilai sebagai tantangan serius bagi kedaulatan digital nasional di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital.
Ketergantungan 90% Trafik Internet ke Singapura
Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital Kementerian Komdigi, Denny Setiawan, menyebut kondisi ini ibarat “Selat Hormuz” di Selat Malaka. “Sejujurnya, trafik kita 90% tergantung ke Singapura. Itu (seperti) Selat Hormuz di Selat Malaka, gitu ya,” ujarnya di Jakarta. Pernyataan ini menggambarkan betapa kritisnya jalur tersebut bagi konektivitas digital Indonesia.
Lonjakan kebutuhan internet yang didorong oleh layanan big data, cloud computing, dan kecerdasan buatan (AI) semakin meningkatkan beban pada rute utama ini. Laporan industri telekomunikasi regional juga menempatkan Asia Tenggara sebagai kawasan dengan pertumbuhan trafik internet tercepat di dunia.
Mengapa Singapura Jadi Pusat Lalu Lintas Internet Indonesia?
Secara historis, sebagian besar trafik internet Indonesia melewati Singapura karena negara tersebut merupakan salah satu internet exchange hub terbesar di Asia. Infrastruktur kabel bawah laut yang menghubungkan berbagai negara di kawasan Indo-Pasifik terkonsentrasi di sana, sehingga data dari Indonesia seringkali “menumpang” ke Singapura sebelum terhubung ke jaringan global.
Posisi geografis dan investasi besar dalam infrastruktur telekomunikasi menjadikan Singapura sebagai titik temu (meeting point) yang efisien. Namun, ketergantungan pada satu hub juga membawa risiko, mulai dari potensi gangguan hingga kendali atas kedaulatan data.
Strategi Diversifikasi: Kabel Laut, Darat, dan Pusat Data
Untuk mengurangi risiko tersebut, pemerintah Indonesia mendorong diversifikasi rute jaringan. Upaya ini mencakup pengembangan dan pemetaan jalur kabel bawah laut baru, serta penguatan jaringan kabel darat yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau. “Kami mencoba menyelaraskan peta jalan pusat data, kabel laut, dan kabel darat—semuanya pada frekuensi yang sama,” jelas Denny.
Dengan tidak bertumpu pada satu titik hub, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Langkah ini juga sejalan dengan kebutuhan akan infrastruktur yang tangguh dan mandiri di era transformasi digital yang semakin cepat.
Menuju Kedaulatan Digital: Visi AI ASEAN
Menteri Komdigi memiliki visi agar Indonesia menjadi nomor satu di ASEAN dalam bidang kecerdasan buatan. Denny menegaskan bahwa fondasi menuju hal tersebut dibangun secara bertahap, mulai dari alokasi frekuensi, pembangunan kabel laut, hingga pengembangan aplikasi. “Kita tetap yakin dan optimis,” pungkasnya.
Diversifikasi jalur internet bukan hanya soal kecepatan akses, tetapi juga memastikan bahwa Indonesia memiliki kendali penuh atas infrastruktur digitalnya. Dalam lanskap global yang semakin kompetitif, kemandirian ini menjadi kunci untuk menjaga ketahanan digital dan mendorong inovasi lokal.









