Kemampuan kecerdasan buatan kembali menorehkan tonggak baru. Tiga model AI terkini, ChatGPT 5.2 Thinking buatan OpenAI, Google Gemini 3 Pro Preview, dan Claude Opus 4.5 dari Anthropic, berhasil lolos ujian masuk dua universitas paling bergengsi di Jepang: University of Tokyo dan Kyoto University. Tidak sekadar lulus, mereka bahkan mencetak skor yang mengungguli peserta manusia dengan nilai tertinggi pada ujian yang sama, menurut pengujian yang dilakukan oleh perusahaan AI asal Jepang, LifePrompt.
Prestasi ChatGPT di University of Tokyo
ChatGPT tampil sebagai bintang dalam uji coba ini. Pada jalur Natural Sciences III University of Tokyo, yang merupakan jalur masuk kedokteran dan ilmu sains paling kompetitif, model ini meraih skor 503 dari total 550 poin. Angka ini 50 poin lebih tinggi dari skor terbaik peserta manusia yang mencapai 453 poin. ChatGPT bahkan mencatat nilai sempurna untuk mata ujian matematika.
Di jalur Humanities and Social Sciences, performanya tetap cemerlang dengan perolehan 452 poin dari 550 poin. Skor tersebut melampaui nilai tertinggi peserta yang diterima tahun ini, yaitu 434 poin. Hasil ini menegaskan bahwa kemampuan AI tidak hanya terbatas pada logika dan angka, tetapi juga mampu menaklukkan soal-soal berbasis penalaran humaniora.
Gemini dan Claude Juga Unggul
Keunggulan tidak hanya milik ChatGPT. Google Gemini 3 Pro Preview dan Claude Opus 4.5 juga berhasil melampaui ambang kelulusan di berbagai jalur seleksi. Gemini disebut memperoleh beberapa nilai matematika sempurna di berbagai jalur ujian, sementara Claude berhasil melampaui nilai kelulusan di seluruh kategori yang diujikan, termasuk jalur Natural Sciences III University of Tokyo dan Fakultas Kedokteran Kyoto University.
Fakta bahwa tiga model dari pengembang berbeda sama-sama mampu menembus seleksi ketat ini menunjukkan bahwa lompatan performa AI sudah bersifat lintas platform, bukan semata keunggulan satu laboratorium riset. Ini menjadi sinyal kuat bahwa AI telah memasuki level pemecahan masalah yang sebelumnya dianggap eksklusif milik intelektualitas manusia papan atas.
Konteks Persaingan Masuk Universitas di Jepang
Setiap tahun, sekitar 500.000 siswa mengikuti ujian masuk universitas di Jepang. University of Tokyo dan Kyoto University dikenal memiliki proses seleksi yang sangat ketat, dengan persaingan masuk fakultas-fakultas favorit yang kerap disebut sebagai salah satu yang paling sulit di dunia. Lolosnya AI ke dalam jajaran skor tertinggi bukan sekadar pencapaian teknis, melainkan juga momen yang mengguncang persepsi tentang batas antara kecerdasan mesin dan manusia di ranah akademik.
LifePrompt, perusahaan yang melakukan pengujian, menggunakan tahun akademik 2026 sebagai tolok ukur, memastikan soal-soal yang diujikan sepenuhnya baru dan belum pernah terpapar dalam data pelatihan model. Dengan demikian, hasil ini mencerminkan kemampuan penalaran murni AI, bukan sekadar pengulangan pola dari data historis.
Implikasi untuk Masa Depan AI dan Pendidikan
Keberhasilan ini membuka diskusi lebih luas tentang peran AI dalam sistem pendidikan. Jika model bahasa besar sudah mampu mengungguli calon mahasiswa terbaik dalam ujian masuk universitas elit, bagaimana seharusnya institusi pendidikan merancang ulang metode evaluasi dan kurikulum mereka? Pertanyaan-pertanyaan ini akan semakin mendesak seiring percepatan pengembangan AI.
Bagi masyarakat umum, hasil pengujian ini menjadi pengingat bahwa kehadiran AI tidak lagi terbatas pada asisten virtual atau otomasi tugas sederhana. Teknologi ini kini telah menyentuh ranah pemikiran tingkat tinggi, membuka peluang sekaligus tantangan baru dalam cara kita mendidik, belajar, dan mendefinisikan keunggulan manusia.
