Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik dalam beberapa waktu terakhir. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran meminta seluruh warga pesisir, nelayan, dan wisatawan untuk meningkatkan kewaspadaan serta tidak memasuki zona bahaya yang telah ditetapkan.
Pemantauan 24 Jam Menunjukkan Aktivitas Kegempaan Tinggi
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Suwarno, menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas terekam jelas melalui pengamatan visual dan data kegempaan yang dipantau secara intensif selama 24 jam penuh. Alat pemantau mencatat masih adanya embusan dan aktivitas kegempaan yang mengindikasikan bahwa aktivitas vulkanik gunung api tersebut masih berlangsung.
“Saat ini Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup tinggi sehingga masyarakat diimbau tetap waspada dan tidak mendekati kawasan yang telah ditetapkan sebagai zona bahaya,” ujar Suwarno di Lampung Selatan, Rabu (24/6).
Status Level II Waspada dan Imbauan Resmi
Gunung Anak Krakatau berada dalam status Level II atau Waspada. Otoritas vulkanologi dengan tegas meminta nelayan, wisatawan, dan masyarakat umum untuk tidak beraktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah. Jarak ini ditetapkan untuk menghindari risiko erupsi yang dapat disertai lontaran material vulkanik.
“Gunung Anak Krakatau masih dalam status Level II, atau Waspada, nelayan dan wisatawan diminta untuk tidak mendekati dalam radius dua kilometer dari kawah Gunung Anak Krakatau,” tegas Suwarno.
Mengapa Peningkatan Aktivitas Ini Perlu Diwaspadai
Peningkatan aktivitas kegempaan dan embusan merupakan indikator penting bahwa dapur magma di bawah permukaan sedang aktif. Meskipun belum ada tanda-tanda erupsi besar, kondisi ini bisa berkembang sewaktu-waktu menjadi letusan yang mengeluarkan abu vulkanik, lontaran batu, atau bahkan aliran piroklastik jika intensitas terus bertambah.
Sejarah mencatat Anak Krakatau memiliki karakter erupsi yang fluktuatif. Kenaikan frekuensi gempa dan embusan sering kali menjadi pertanda awal sebelum fase erupsi yang lebih kuat. Oleh karena itu, pemantauan terus dilakukan sebagai dasar langkah mitigasi untuk mengurangi risiko bencana.
Masyarakat Diminta Hanya Merujuk Informasi Resmi
Suwarno juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Warga diimbau untuk selalu mengacu pada informasi yang disampaikan oleh lembaga berwenang seperti PVMBG, Badan Geologi, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda juga diminta untuk terus memantau perkembangan informasi terkait aktivitas gunung api dan kondisi cuaca sebelum melaut. Kombinasi antara cuaca buruk dan aktivitas vulkanik dapat meningkatkan risiko keselamatan di laut.
Kewaspadaan dan kepatuhan terhadap imbauan resmi menjadi kunci utama agar potensi bahaya dari Gunung Anak Krakatau dapat diantisipasi sejak dini. Dengan pemantauan berkelanjutan dan kesadaran masyarakat, diharapkan keselamatan seluruh warga di sekitar Selat Sunda tetap terjaga.









