CNG Diprediksi Salip Bensin di India pada 2032, Bagaimana dengan Indonesia?

goodside
6 Min Read

Dalam satu dekade mendatang, peta bahan bakar kendaraan penumpang di India diprediksi akan berubah drastis. Bukan listrik, melainkan gas alam terkompresi (CNG) yang digadang-gadang bakal mengambil alih tahta bensin sebagai pilihan utama konsumen. Proyeksi ini bukan isapan jempol belaka; data resmi dan regulasi ketat menjadi fondasinya.

Proyeksi Pangsa Pasar CNG yang Mengejutkan

Laporan Bureau of Energy Efficiency (BEE) yang beredar di kalangan industri otomotif India memperlihatkan lonjakan signifikan. Pada tahun fiskal 2025, mobil bensin masih merajai pasar dengan pangsa sekitar 58 persen, sementara CNG baru menginjak 18 persen. Namun, jembatan waktu tujuh tahun ke depan diyakini membalikkan keadaan.

BEE memproyeksikan adopsi CNG meningkat dua kali lipat pada tahun fiskal 2032. Saat itu, pangsa pasarnya diperkirakan menembus 35 persen, sementara bensin justru turun ke level 30,7 persen. Artinya, untuk pertama kalinya mobil berbahan bakar gas akan mendominasi jalanan India, setidaknya secara statistik.

Apa yang Mendorong Lonjakan CNG?

Efisiensi biaya operasional selama ini menjadi magnet utama bagi konsumen India. Harga CNG per kilometer yang lebih murah dibanding bensin membuatnya populer di segmen angkutan umum maupun pribadi. Namun, dorongan terbesar justru datang dari arah regulator.

“CNG menawarkan salah satu jalur paling praktis dan scalable untuk memenuhi target emisi,” ungkap pejabat senior BEE dalam laporannya. Tekanan untuk menekan jejak karbon mendorong pabrikan mobil berpaling dari mesin pembakaran dalam konvensional menuju alternatif yang lebih bersih.

Perbandingan Emisi: CNG vs Bensin vs Diesel

Data emisi yang menjadi acuan regulasi semakin memperkuat posisi CNG. Setiap kilometernya, mobil bermesin CNG menghasilkan emisi karbon dioksida (CO₂) sekitar 97,59 gram. Angka ini jauh lebih rendah ketimbang mobil bensin yang melepas 119,82 g/km, apalagi diesel yang mencapai 150,18 g/km.

Keunggulan ini belum termasuk skema faktor karbon netral yang bisa menekan emisi efektif CNG hingga sekitar 92,71 g/km. Dengan selisih yang cukup signifikan, CNG menjadi pilihan logis bagi pabrikan yang berusaha mematuhi aturan tanpa harus sepenuhnya beralih ke kendaraan listrik yang masih terbatas infrastrukturnya.

Regulasi CAFE-3 Jadi Game Changer

Pendorong utama di balik lonjakan ini adalah standar Corporate Average Fuel Efficiency (CAFE-3) yang berlaku pada periode 2027–2032. Regulasi tersebut mewajibkan setiap pabrikan menekan rata-rata emisi armada kendaraannya, atau siap-siap dikenai sanksi finansial.

Targetnya ambisius: rata-rata emisi armada harus turun hingga 77,08 gram CO₂ per kilometer pada 2032. Untuk mencapai angka itu, menjual lebih banyak mobil CNG adalah cara paling cepat. Sementara itu, kendaraan listrik memang dapat supercredit dalam perhitungan, tapi penetrasinya belum cukup masif dalam waktu dekat.

Dukungan Model Pabrikan dan Infrastruktur

Pasar India sudah dimanjakan dengan lebih dari 35 model mobil CNG bawaan pabrik. Nama-nama besar seperti Maruti Suzuki, Tata Motors, Hyundai Motor India, dan Toyota Kirloskar Motor menjadi pemain utama. Ketersediaan varian langsung dari pabrikan ini memudahkan konsumen tanpa perlu repot konversi sendiri.

Meski demikian, kunci percepatan adopsi tetaplah infrastruktur. Pengembangan jaringan distribusi gas di kota-kota lapis dua dan tiga menjadi faktor krusial. Tanpa SPBG (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas) yang memadai, proyeksi optimistis ini bisa saja terhambat.

CNG sebagai Jembatan Menuju Elektrifikasi Penuh

Kendaraan listrik tetap menjadi tujuan akhir industri otomotif global. India pun tidak mengabaikannya, dengan berbagai insentif yang sudah disiapkan. Namun, di tengah keterbatasan pasokan listrik bersih dan rantai pasok baterai, CNG mengambil peran sebagai teknologi transisi yang lebih terjangkau dan cepat diadopsi.

Di sinilah letak strategi dua jalur India: mendorong gas alam untuk menurunkan emisi secara langsung, sambil menyiapkan fondasi elektrifikasi jangka panjang. Pendekatan ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi negara berkembang lain yang tengah bergulat dengan polusi udara dan biaya impor bahan bakar fosil.

Pelajaran untuk Indonesia

Indonesia memiliki sumber gas alam yang melimpah, namun pemanfaatannya untuk transportasi masih jauh dari optimal. Program konversi BBM ke BBG (bahan bakar gas) memang sudah lama digulirkan, tetapi stagnasi infrastruktur dan pasokan di beberapa daerah kerap menjadi ganjalan.

Proyeksi dari India ini bisa menjadi pemantik untuk kembali menilik kebijakan energi nasional. Beberapa poin yang relevan untuk diadaptasi:

  • Mempercepat pembangunan SPBG di kota-kota satelit dan jalur utama logistik.
  • Mendorong pabrikan merakit mobil CNG siap pakai, bukan hanya program konversi.
  • Menerbitkan regulasi emisi armada dengan sanksi yang tegas untuk memacu adopsi teknologi bersih.
  • Memasukkan faktor karbon netral dalam perhitungan emisi agar CNG lebih kompetitif.
  • Menggabungkan program BBG dengan persiapan era kendaraan listrik agar transisi berjalan mulus.

Tanpa kehadiran regulasi yang kuat, mobil bensin murah akan terus mendominasi dan menunda perbaikan kualitas udara perkotaan. India menunjukkan bahwa dengan campur tangan kebijakan yang tepat, lanskap otomotif bisa berubah dalam waktu kurang dari satu dekade.

Lonjakan CNG di India bukan sekadar angka statistik. Ia adalah cerminan dari keberanian regulator memaksakan standar tinggi dan kemampuan industri beradaptasi. Bagi Indonesia, cerita ini bisa menjadi cetak biru untuk memanfaatkan kekayaan gas bumi sekaligus mengejar target pengurangan emisi, asalkan ada kemauan politik dan eksekusi yang konsisten.

Leave a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *