
Jimmy Kimmel Sindir Trump Pakai Kartu Ultah Tiruan Jeffrey Epstein
Jimmy Kimmel kembali melontarkan sindiran pedas kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump tepat di perayaan ulang tahunnya yang ke-80. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, pembawa acara Jimmy Kimmel Live! itu membagikan kartu ucapan yang meniru kartu rahasia yang diduga pernah dikirimkan Trump kepada mendiang pelaku kejahatan seksual, Jeffrey Epstein. Unggahan tersebut sontak memicu perbincangan di kalangan penggemar dan pengamat politik, karena tak hanya sekadar olok-olok biasa, melainkan menyentuh luka lama yang hingga kini masih menyelimuti rekam jejak Trump.
Kimmel menandai akun resmi @realdonaldtrump dalam gambar kartu tiruan tersebut. “Happy #80,” tulisnya singkat namun penuh makna satire. Aksi ini langsung menjadi sorotan warganet dan media hiburan, menambah panjang daftar kritik komedian itu terhadap pemerintahan Trump selama bertahun-tahun.
Kartu Tiruan yang Sarat Pesan Satire
Kartu yang dibagikan Kimmel menampilkan tulisan bernada sindiran: “Selamat ulang tahun yang ke-80 Donald! Seorang sahabat adalah hal yang luar biasa. Selamat ulang tahun dan semoga setiap hari menjadi rahasia indah lainnya.” Kalimat ini merupakan modifikasi dari kartu asli yang ditujukan kepada Epstein pada tahun 2003. Dalam versi aslinya, kalimat tersebut diakhiri dengan tanda tangan Donald J. Trump, namun di kartu tiruan, Kimmel mengubah nama penerima dan menambahkan siluet kasar yang menyindir bentuk tubuh Trump, menggantikan siluet wanita tanpa busana.
Pilihan visual ini jelas dimaksudkan untuk memperkuat pesan satire bahwa sang presiden bukan sekadar pengirim pesan, melainkan juga diolok-olok secara fisik. Hal ini selaras dengan gaya humor Kimmel yang kerap memadukan komentar pedas dan visual yang tidak terduga.
Asal-usul Kartu Asli yang Kontroversial
Kartu ucapan asli diduga dikirim Trump kepada Epstein pada tahun 2003, saat pemodal tersebut merayakan ulang tahun ke-50. Surat itu baru terungkap ke publik setelah The Wall Street Journal membongkarnya pada Juli 2025, dan dokumen lengkapnya dirilis oleh perwakilan Demokrat di Komite Pengawas DPR pada September tahun yang sama. Kartu ini mencuat di tengah sorotan terhadap hubungan Trump dengan Epstein, yang sudah menjadi perhatian sejak Epstein ditangkap karena tuduhan perdagangan seks pada 2019. Epstein kemudian ditemukan tewas di selnya pada Agustus 2019, namun spekulasi tetap bermunculan.
Dalam dokumen tersebut, dialog antara tokoh ‘Donald’ dan ‘Jeffrey’ membahas kesamaan di antara mereka, dengan salah satu kalimat berbunyi: “seorang sahabat adalah hal yang luar biasa… semoga setiap hari menjadi rahasia yang indah.” Tanda tangan Donald J. Trump tercantum di bagian bawah, meski Gedung Putih membantah keras bahwa presiden yang menulis atau menandatanganinya. Dokumen tersebut semakin memperkeruh dugaan bahwa keduanya memiliki hubungan yang lebih dekat daripada yang diakui, terutama setelah sejumlah foto lawas keduanya bersama juga tersebar.
Reaksi Gedung Putih dan Perang Hukum
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, pada September lalu menegaskan bahwa Trump tidak menggambar atau menandatangani kartu tersebut. “Seperti yang telah saya sampaikan sejak awal, sangat jelas bahwa Presiden Trump tidak menggambar gambar ini, dan dia tidak menandatanganinya,” ujar Leavitt. Pihaknya juga menyatakan akan terus menempuh jalur hukum.
Trump sendiri telah mengajukan gugatan senilai US$10 miliar terhadap The Wall Street Journal dan dua reporternya pada Juli lalu. Gugatan itu sempat ditolak oleh hakim federal pada April 2026, namun ia kembali mendaftarkannya sebulan kemudian dengan menambahkan perusahaan induk Dow Jones, Rupert Murdoch, serta CEO News Corp Robert Thomson ke dalam berkas tuntutan. Langkah ini menunjukkan betapa seriusnya Trump menangkal narasi yang mengaitkannya dengan Epstein, meski unggahan Kimmel justru memanfaatkan bahan tersebut untuk satire.
Kimmel dan Tradisi Satire Politik
Ini bukan pertama kalinya Jimmy Kimmel menggunakan kartu ucapan sebagai senjata satire. Komedian yang dikenal vokal mengkritik Trump itu sebelumnya pernah menyindir presiden melalui segmen monolog di acara televisinya dan media sosial, terutama terkait isu-isu kontroversial seperti penanganan pandemi dan dugaan skandal pribadi. Kimmel bahkan sempat menjadi sasaran balasan dari Trump di Twitter pada masa jabatan pertamanya.
Sindiran terbaru di hari ulang tahun ke-80 Trump ini dinilai sebagai cara Kimmel untuk terus menyoroti hubungan kontroversial presiden dengan Epstein, sekaligus merayakan momen pribadi sang lawan politik dengan sentuhan humor gelap khasnya. Bagi penggemar komedi satir, unggahan ini ibarat kado ulang tahun alternatif yang pedas sekaligus menghibur.
Dalam konteks yang lebih luas, aksi Kimmel mencerminkan bagaimana komedian dan media hiburan berperan sebagai penyeimbang kekuasaan dengan menyampaikan kritik melalui tawa. Meski terkadang menimbulkan kontroversi, satir semacam ini terus menjadi bagian dari budaya pop Amerika yang menarik perhatian publik, termasuk di Indonesia. Dengan demikian, meskipun kartu ini hanya lelucon digital, ia berhasil memantik kembali diskusi soal batas privasi, kebenaran fakta, dan etika para pemimpin publik yang terus menjadi perhatian di era keterbukaan informasi. Bagi Kimmel, ini mungkin hanya salah satu dari sekian banyak lelucon, namun dampaknya tetap terasa di dunia maya dan menjadi bahan perbincangan para pengamat hiburan.








