
Mikroplastik Tinggi pada Apel dan Wortel, Buah-Sayur Favorit Warga RI
Jakarta – Partikel plastik berukuran sangat kecil kini bukan hanya mencemari laut atau air minum, tetapi juga masuk ke dalam buah dan sayur yang kita santap sehari-hari. Penelitian dari jurnal Environmental Research mengonfirmasi temuan mengejutkan: apel dan wortel menjadi komoditas pangan dengan tingkat kontaminasi mikroplastik paling parah. Kedua bahan pangan ini pun masuk dalam daftar belanja rutin sebagian besar masyarakat Indonesia.
Apa Itu Mikroplastik dan Bagaimana Bisa Masuk ke Tanaman?
Mikroplastik adalah serpihan plastik berukuran kurang dari 5 milimeter, bahkan banyak yang jauh lebih kecil hingga skala mikrometer. Menurut studi yang dirujuk, partikel ini mampu menembus jaringan tanaman melalui akar. Air dan tanah yang tercemar menjadi jalur utama masuknya mikroplastik ke dalam buah dan sayur, terutama pada lahan pertanian yang menggunakan irigasi dari sumber air tercemar atau pupuk berbasis limbah.
Proses penyerapan ini terjadi tanpa kita sadari. Begitu akar menyerap air yang mengandung mikroplastik, partikel tersebut ikut terdistribusi ke batang, daun, hingga buah. Akumulasi inilah yang membuat apel, pir, wortel, dan selada sering kali mengandung jumlah partikel plastik yang mencengangkan.
Apel dan Wortel, Juara Kontaminasi Mikroplastik
Data dari Environmental Science (2020) mencatat, satu gram apel rata-rata mengandung sekitar 195.500 partikel mikroplastik. Sementara itu, pir menyusul dengan 189.500 partikel per gram. Untuk kategori sayuran, wortel dan brokoli menjadi yang paling terkontaminasi, masing-masing dengan lebih dari 100.000 partikel per gram.
“Saat kita menggigit apel, kemungkinan besar kita juga mengonsumsi mikroplastik,” ujar Sion Chan, juru kampanye Greenpeace Asia Timur yang berbasis di Hong Kong. Ia menekankan bahwa temuan ini bukan sekadar angka laboratorium, melainkan gambaran nyata dari apa yang masuk ke tubuh manusia setiap hari.
Daftar Buah dan Sayur Lain yang Perlu Diwaspadai
Selain apel dan wortel, selada juga menjadi sorotan karena mengandung potongan plastik berukuran paling besar. Riset dari Universitas Catania, Italia, menambahkan daftar tersebut dengan menyebutkan selada, pir, brokoli, dan apel sebagai komoditas yang harus diwaspadai. Bahkan studi pada protein hewani dan nabati menemukan hampir 90% sampel protein mengandung mikroplastik, menunjukkan bahwa kontaminasi sudah merambah ke seluruh rantai pangan.
Untuk buah dan sayur secara umum, peneliti menemukan rentang 52.050 hingga 233.000 partikel plastik per item. Dengan konsumsi rutin, apalagi tanpa pencucian yang memadai, asupan mikroplastik dari pangan segar bisa menumpuk dalam jangka panjang.
Implikasi Kesehatan dan Langkah Mengurangi Risiko
Meski penelitian tentang dampak langsung mikroplastik pada kesehatan manusia masih terus berkembang, akumulasi partikel asing di dalam tubuh berpotensi memicu peradangan, stres oksidatif, dan gangguan sistem pencernaan. Para ahli menyarankan beberapa cara sederhana untuk meminimalkan risiko, seperti mencuci buah dan sayur dengan air mengalir lebih lama, mengupas kulit apel atau wortel bila memungkinkan, serta memilih produk dari pertanian organik yang sistem irigasinya lebih terkendali.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa isu polusi plastik bukan hanya tentang sampah di laut, melainkan sudah mendekati piring makan kita. Dengan meningkatnya kesadaran dan perbaikan sistem pertanian, diharapkan rantai pangan bisa terbebas dari cemaran mikroplastik di masa depan.








