
Piala Dunia 2026 Disebut Zonk, Penonton dan Hotel Sepi
Pesta akbar sepak bola empat tahunan yang biasanya dipenuhi gegap gempita justru berjalan lebih senyap tahun ini. Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada disebut-sebut sebagai ‘zonk’ karena minimnya animo penonton yang datang langsung ke lokasi pertandingan. Laporan dari para pelaku industri perhotelan dan data penjualan tiket mengonfirmasi bahwa euforia yang diharapkan tidak sepenuhnya terwujud.
Hotel Sepi, Tiket Masih Banyak Tersedia
Beberapa hari sebelum turnamen dimulai, survei American Hotel and Lodging Association mengungkap fakta mengejutkan: 80% hotel di kota-kota penyelenggara mencatat tingkat pemesanan di bawah ekspektasi. Para pemilik hotel mengaku lesu karena kamar-kamar yang biasanya ludes diburu penggemar justru banyak yang kosong.
Di sisi penjualan tiket, situasinya tak jauh berbeda. Data dari Ticket Data menunjukkan masih ada sekitar 25 ribu kursi yang tersedia melalui platform penjualan resmi FIFA. Ironisnya, tiket-tiket tersebut sebagian besar hanya laku untuk pertandingan yang melibatkan tim tuan rumah. Minimnya peminat ini mengindikasikan bahwa gelaran dengan format baru 48 tim dan 104 pertandingan belum tentu berbanding lurus dengan antusiasme penonton.
Fenomena Kursi Kosong Bukan Hal Baru
Sepinya tribun penonton sebenarnya bukan kali pertama terjadi dalam sejarah Piala Dunia. Pada edisi 2010 di Afrika Selatan, hampir 3,2 juta orang hadir, namun banyak kursi kosong terlihat di laga penyisihan grup—seperti saat Yunani melawan Korea Selatan. FIFA kala itu menyalahkan pemegang tiket korporat dan penggemar luar negeri yang tidak hadir.
Pola serupa terulang di Brasil 2014, di mana harga tiket yang mahal membuat penggemar lokal kesulitan membeli, sementara tiket yang dikembalikan sponsor gagal dialihkan ke publik. Pada 2018 di Rusia, Newsweek mencatat 5.000 kursi kosong dalam pertandingan Uruguay melawan Mesir. Rangkaian kejadian ini menunjukkan bahwa persoalan distribusi tiket dan daya beli penonton adalah masalah laten yang kembali mencuat di 2026.
Dampak Kebijakan Donald Trump dan Gejolak Geopolitik
Salah satu faktor yang memperkeruh situasi adalah kebijakan Presiden AS Donald Trump yang dinilai membuat turis asing enggan berkunjung. “Isu geopolitik yang tentu saja membuat orang lebih waspada untuk bepergian ke AS dan menghabiskan uang di AS,” ujar Mike Edwards, Profesor Manajemen Olahraga dari North Carolina State University, seperti dikutip Al Jazeera.
American Civil Liberties Union (ACLU) bahkan mengeluarkan peringatan bagi warga negara asing yang hendak menyaksikan Piala Dunia di AS. Ditambah lagi, kebingungan seputar aturan visa dan keterlambatan proses penerbitan membuat jumlah wisatawan internasional—yang biasanya menjadi penyumbang belanja terbesar—justru menyusut drastis.
Tekanan Ekonomi Warga AS Sendiri
Tidak hanya turis asing, warga lokal pun sedang menghadapi tekanan ekonomi yang membuat mereka berpikir ulang untuk merogoh kocek. Harga bensin sempat naik menjadi US$4,16 per galon pada Februari lalu, sementara biaya hidup terus merangkak naik dan pasar tenaga kerja melambat. Kondisi ini mendorong masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang untuk perjalanan dan hiburan, termasuk menonton langsung pertandingan Piala Dunia.
Fenomena Piala Dunia 2026 yang sepi penonton ini menjadi cermin bahwa bahkan hajatan sebesar Piala Dunia pun tak kebal terhadap dinamika ekonomi dan politik global. Bagi pencinta sepak bola, situasi ini bisa menjadi pengingat bahwa kemeriahan di layar kaca tidak selalu berbanding lurus dengan atmosfer di stadion, dan bahwa akses terhadap olahraga kelas dunia masih dibayangi oleh persoalan biaya serta kebijakan negara tuan rumah.








