Dunia riset Indonesia kembali bergairah dengan kabar baik dari kancah teknologi pertanian. Rektor Universitas Nusa Mandiri (UNM), Prof Dr Ir Dwiza Riana, berhasil meraih pendanaan bergengsi Program Hibah Penelitian Disertasi Doktor (PDD) Tahun Anggaran 2026 dari Kemdiktisaintek. Penelitian ini bukan sekadar prestasi akademik biasa, melainkan sebuah lompatan strategis untuk membawa kecerdasan buatan langsung ke ladang para petani kentang, menjanjikan sistem deteksi hama yang jauh lebih cerdas dan adaptif.
Mengenal Riset AI untuk Ketahanan Pangan
Judul penelitiannya cukup teknis namun sarat makna: “Pengembangan Metode Interpolasi Citra Presisi Tinggi dan Loss Function Adaptif untuk Stabilisasi Model Deteksi Hama Tanaman Kentang Berbasis Deep Learning”. Secara sederhana, riset ini ingin memecahkan masalah klasik dalam model AI, yaitu bagaimana menstabilkan dan meningkatkan akurasi deteksi hama pada gambar atau citra tanaman yang seringkali memiliki kualitas beragam.
Tim periset yang dipimpin langsung oleh Prof Dwiza, bersama Dr. Muhammad Haris dan kandidat doktor Sri Hadianti, fokus pada komoditas kentang yang sangat vital. Dengan pendekatan ‘loss function adaptif’, sistem yang dibangun diharapkan mampu mengenali ancaman hama dengan jauh lebih presisi, meminimalkan kesalahan deteksi yang bisa berakibat fatal pada keputusan penanganan di lapangan.
Kolaborasi Pimpinan Kampus dalam Riset Inovatif
Yang menarik, keterlibatan langsung seorang rektor dalam penelitian ini menunjukkan budaya akademik yang produktif di UNM. Andi Saryoko, Ketua LPPM UNM, menekankan bahwa keberhasilan ini adalah bukti komitmen kampus dalam menghasilkan riset yang tidak hanya berorientasi pada publikasi jurnal, tetapi juga dampak nyata bagi masyarakat.
“Kami optimistis inovasi berbasis AI ini dapat menjadi solusi konkret dalam mendukung sektor pertanian modern,” ujarnya. Semangat ini sejalan dengan posisi UNM sebagai Kampus Digital Bisnis yang terus berupaya menghadirkan teknologi solutif, menjembatani dunia digital dengan kebutuhan riil masyarakat akar rumput.
Dari Laboratorium ke Aplikasi Pertanian Cerdas
Cita-cita besar dari riset ini adalah transformasi menuju sistem pertanian cerdas. Teknologi deteksi hama yang akurat dan cepat akan sangat krusial. Petani seringkali terlambat menyadari serangan hama, yang berujung pada kerugian hasil panen yang signifikan. Dengan model deep learning yang dikembangkan, pendeteksian bisa dilakukan sejak dini, bahkan mungkin cukup melalui foto dari ponsel pintar yang terintegrasi dengan sebuah aplikasi digital sederhana.
Inilah yang menjadi arah pengembangan selanjutnya. Pihak UNM menyebutkan, inovasi ini berpeluang besar untuk diwujudkan dalam bentuk aplikasi yang dapat dimanfaatkan petani di berbagai wilayah Indonesia. Ini merupakan langkah nyata untuk mendemokrasikan akses teknologi tinggi bagi kelompok yang paling membutuhkan.
Semakin Relevan di Era Deep Learning
Pencapaian UNM ini menegaskan bagaimana riset deep learning di Indonesia semakin membumi. Jika sebelumnya kecerdasan buatan sering diidentikkan dengan robotika kompleks atau chatbot virtual, kini fokusnya mulai bergeser ke isu-isu fundamental seperti pangan. Metode ‘interpolasi citra presisi tinggi’ yang akan dikembangkan menjadi kunci untuk mengakali keterbatasan data visual di lapangan, misalnya gambar yang buram atau kurang cahaya.
Pendekatan ini menjadi sangat relevan karena kondisi pertanian di Indonesia sangat beragam, tidak selalu didukung oleh perangkat kamera canggih. Dengan AI yang tangguh terhadap variasi kualitas data, adopsi teknologi oleh petani menjadi lebih mudah dan murah. Ini adalah contoh sempurna bagaimana riset nasional mampu menjawab tantangan lokal yang unik.
Mengapa Ini Kabar Baik bagi Masa Depan Petani
Di tengah isu global soal perubahan iklim dan ancaman hama baru, petani kentang di Indonesia sangat membutuhkan bantuan. Riset di UNM ini membawa harapan bahwa solusi bisa datang dari dalam negeri, dirancang untuk kondisi lokal. Dengan diagnosis yang lebih cepat, petani bisa mengambil tindakan tepat, mengurangi penggunaan pestisida berlebihan, dan pada akhirnya menjaga kualitas serta kuantitas panen.
Lebih dari itu, riset ini memperkuat narasi bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga produsen inovasi. Dukungan pendanaan dari Kemdiktisaintek menjadi angin segar sekaligus pengakuan bahwa riset AI untuk pertanian adalah salah satu prioritas nasional yang patut diperhitungkan di masa depan.
Keberhasilan Prof Dwiza dan timnya menjadi bukti bahwa mimpi menghadirkan teknologi canggih di sawah dan ladang bukan lagi utopia. Dengan fondasi riset yang kuat, langkah selanjutnya adalah memastikan agar inovasi ini benar-benar sampai ke tangan para petani, mengubah cara mereka bertani, dan mengamankan masa depan pangan kita bersama.
