Seabad Setahun Asrul Sani: Sosiolog UI Desak Kesejahteraan Seniman

goodside
5 Min Read
Photo by Rasyid Ahmad on Pexels

Peringatan Seabad Setahun Asrul Sani yang baru saja digelar tidak sekadar menjadi ajang nostalgia mengenang sosok sastrawan, sutradara, dan budayawan besar Indonesia. Momentum ini dimanfaatkan oleh Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Imam B. Prasodjo untuk menyuarakan keprihatinan mendalam tentang kesejahteraan para seniman dan intelektual tanah air. Imam mendesak pemerintah hadir dengan skema dana abadi dan dukungan nyata agar mereka bisa terus berkarya tanpa dibayangi kesulitan ekonomi.

Mengenang Asrul Sani: Seniman dan Intelektual Serba Bisa

Asrul Sani adalah nama yang tak terpisahkan dari sejarah sastra dan perfilman Indonesia. Lahir pada 10 Juni 1926 di Rao, Sumatera Barat, ia bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin membentuk trio legendaris yang menghasilkan kumpulan puisi “Tiga Menguak Takdir”. Selain menulis sajak, Asrul juga menerjemahkan puluhan karya sastra dunia, menulis naskah drama, dan menyutradarai film-film ikonik seperti “Apa Jang Kautangisi” serta “Pagar Kawat Berduri”.

Perjalanan kreatifnya membuktikan bahwa seorang seniman bisa sekaligus menjadi intelektual publik yang berpengaruh. Sayangnya, di ulang tahunnya yang ke-100, kenyataan pahit masih menghantui banyak penerusnya. Banyak seniman dan akademisi di Indonesia yang hidup dalam kondisi serba pas-pasan meskipun telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk ilmu dan kebudayaan.

Keprihatinan terhadap Kesejahteraan Seniman

Dalam diskusi peringatan tersebut, Imam B. Prasodjo menyoroti betapa ironisnya situasi yang dialami para pekerja seni. Menurutnya, kontribusi mereka seringkali tidak sebanding dengan penghargaan yang diterima, terutama dari sisi finansial. Banyak pelukis, penulis, pemusik, dan pekerja teater yang harus berjuang keras memenuhi kebutuhan sehari-hari karena pendapatan dari seni tidak menentu.

“Seniman adalah aset bangsa yang menjaga jiwa dan identitas kita. Tanpa perlindungan sosial yang memadai, kita berisiko kehilangan talenta-talenta terbaik,” ujar Imam mengutip catatan dari acara tersebut. Ia menambahkan bahwa negara maju seperti Prancis dan Jerman sudah memiliki sistem dana abadi yang menjamin kesehatan dan masa tua para kreator.

Peran Dana Abadi dalam Mendukung Kreativitas

Dana abadi budaya menjadi salah satu solusi yang ditekankan oleh sosiolog UI itu. Konsepnya sederhana: pemerintah mengalokasikan sejumlah dana yang dikelola secara profesional, lalu hasil investasinya digunakan untuk memberikan tunjangan rutin, beasiswa, dan bantuan produksi bagi seniman. Skema ini bukan hanya melindungi kesejahteraan, tetapi juga memberi ruang bebas bagi seniman untuk bereksperimen tanpa tekanan komersial.

Imam mendesak agar Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Keuangan segera duduk bersama merumuskan regulasi yang memungkinkan dana abadi ini terwujud. “Kalau dana abadi untuk pendidikan bisa, mengapa untuk kebudayaan tidak?” tegasnya. Dengan keberadaan dana semacam itu, seniman tidak perlu terus-menerus mengemis proyek atau bergantung pada pesanan pasar yang seringkali membatasi kreativitas.

Dosen dan Intelektual Juga Butuh Perlindungan

Tak hanya seniman, perhatian Imam B. Prasodjo juga tertuju pada para dosen dan intelektual muda. Banyak di antara mereka yang harus bekerja sambilan karena gaji pokok sebagai pengajar tidak mencukupi. Kondisi ini menggerus waktu dan energi yang seharusnya dipakai untuk penelitian, menulis, dan mendidik generasi penerus.

Ia mencontohkan Asrul Sani yang sempat menjadi dosen di Fakultas Sastra UI dan tetap bisa produktif berkarya. Namun di era sekarang, dosen seringkali terbebani urusan administratif dan finansial sehingga sulit menghasilkan pemikiran kritis maupun karya ilmiah bermutu. “Negara harus hadir dengan skema insentif yang memanusiakan para pendidik,” kata Imam.

Harapan untuk Kebijakan Konkret

Peringatan Seabad Setahun Asrul Sani ini diharapkan tidak hanya berakhir sebagai seremoni. Desakan dari Imam B. Prasodjo dan komunitas kebudayaan seharusnya menjadi titik awal perbaikan kebijakan. Dukungan terhadap seniman dan intelektual bukanlah beban, melainkan investasi jangka panjang bagi peradaban bangsa.

Langkah kecil seperti pencairan tunjangan hari tua, akses jaminan kesehatan yang layak, hingga pendirian pusat kreatif di daerah-daerah bisa segera direalisasikan sambil menunggu dana abadi terbentuk. Generasi muda perlu melihat bahwa profesi seniman dan akademisi adalah pilihan yang dihargai dan dijamin masa depannya.

Dengan meneladani semangat Asrul Sani yang tak pernah lelah mencipta meski dalam keterbatasan, diharapkan pemerintah dan masyarakat bisa membangun ekosistem yang lebih adil. Kesejahteraan para penggerak budaya dan ilmu pengetahuan adalah fondasi bagi Indonesia yang berdaulat dalam pikiran dan rasa.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *