Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan pertandingan sepak bola terbaik dari 48 negara, tetapi juga inovasi teknologi yang semakin canggih. Di tengah sorotan terhadap sistem offside semi otomatis dan avatar 3D berbasis AI, satu perangkat kecil namun krusial ikut menjadi pusat perhatian: bola pertandingan. Adidas, pemasok resmi sejak 1970, memperkenalkan Trionda, bola elektronik yang dirancang untuk membantu wasit membuat keputusan seakurat mungkin.
Bola Elektronik yang Harus Diisi Daya Sebelum Laga
Bukan bola biasa, Trionda mengusung “Teknologi Bola Terhubung” yang membuatnya wajib diisi daya sebelum kick-off. Juru bicara Adidas menjelaskan bahwa setiap bola ditempatkan di dudukan pengisian khusus di lokasi pertandingan. Proses ini memastikan sensor di dalamnya dapat beroperasi optimal selama 90 menit penuh, bahkan lebih.
Baterai yang digunakan memiliki standar tinggi, sehingga daya tahannya berkali lipat dari durasi pertandingan level atas. Menurut pernyataan resmi, sepanjang sejarah penggunaan di Piala Dunia FIFA dan UEFA EURO 2024 & 2025, belum pernah ada satu pun bola yang harus diganti karena baterai lemah. Hal ini menegaskan keandalan Trionda di panggung terbesar.
Sensor Canggih untuk Keputusan Wasit yang Lebih Adil
Di dalam Trionda tertanam chip sensor gerak unit pengukuran inersia (IMU) yang ditahan oleh sistem suspensi. Sensor ini mengumpulkan data setiap sentuhan dan mengirimkannya langsung ke sistem VAR (Video Assistant Referee). Dengan begitu, wasit dapat memeriksa potensi offside, handball, dan insiden lain secara lebih cepat dan presisi.
Teknologi ini juga mampu mendeteksi kapan bola meninggalkan lapangan permainan. Saat tidak aktif, bola akan beralih ke mode hibernasi untuk menghemat baterai. Pengisian daya dilakukan secara nirkabel melalui stasiun khusus, membutuhkan waktu sekitar 90 menit untuk kapasitas penuh yang bertahan hingga enam jam penggunaan aktif.
Perbedaan dengan Bola Piala Dunia Sebelumnya
Dibandingkan dengan Al Rihla yang digunakan di Piala Dunia 2022, Trionda hadir dengan perubahan signifikan. Sensor kini ditanam di sisi bola, bukan di titik tengah, untuk meningkatkan akurasi pelacakan. Dari segi desain, bola edisi 2026 memberi penghormatan kepada tiga negara tuan rumah—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—melalui skema warna merah, hijau, biru, serta ikonografi daun maple, elang, dan bintang.
Adidas bekerja sama dengan perusahaan teknologi Kinexon untuk menyempurnakan sistem bola terhubung ini. Di Piala Dunia 2022, teknologi serupa telah diuji dalam 64 pertandingan dan terbukti membantu VAR membuat keputusan lebih obyektif. Kini, dengan penempatan sensor yang lebih baik, Trionda diharapkan semakin meminimalkan kontroversi di lapangan.
Teknologi Pendukung Lain di Piala Dunia 2026
Trionda bukan satu-satunya inovasi yang dihadirkan FIFA. Sistem offside semi otomatis generasi terbaru akan memberikan peringatan audio real-time kepada asisten wasit jika seorang pemain berada dalam posisi offside lebih dari 10 sentimeter. Ini berbeda dari uji coba sebelumnya yang hanya mendeteksi selisih 50 sentimeter. Meski demikian, keputusan akhir tetap di tangan asisten wasit, dan sistem telah dilengkapi mekanisme pengaman untuk meminimalkan kesalahan teknis.
FIFA juga menyiapkan avatar tiga dimensi berbasis AI yang dibuat dari pemindaian digital 1.248 pemain. Animasi 3D ini akan menampilkan situasi offside dengan lebih jelas, termasuk gangguan pandangan kiper. Selain itu, chip di dalam bola turut mendeteksi pemain terakhir yang menyentuh bola saat terjadi gol atau bola keluar, sehingga pengecekan VAR untuk tendangan sudut dan keputusan lain bisa lebih akurat.
Kehadiran Trionda dan sederet teknologi baru ini menegaskan komitmen FIFA untuk menyajikan pertandingan yang lebih adil dan transparan. Bagi penggemar sepak bola, inovasi semacam ini bukan hanya mengurangi kontroversi, tetapi juga menambah lapisan cerita menarik di balik setiap laga. Kini, setiap gol dan keputusan wasit didukung data yang presisi, menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai panggung sepak bola modern yang semakin cerdas.
