Di tengah dominasi film laga modern yang kerap bergantung pada CGI, The Furious hadir sebagai oase bagi pencinta aksi bela diri sejati. Sutradara sekaligus maestro stunt Kenji Tanigaki mempersembahkan sebuah film yang murni mengandalkan baku hantam praktis, koreografi mematikan, dan dampak fisik yang nyaris terasa menembus layar. Berikut ulasan mendalam mengapa film ini layak disebut sebagai salah satu sajian aksi terbaik tahun ini.
1. Plot Klasik Pencarian Keluarga yang Hilang
The Furious berkisah tentang Wang Wei (Xie Miao), seorang pekerja serabutan yang hidup tenang bersama putrinya, Rainy (Yang Enyou), setelah ditinggal sang istri. Ketenangan itu buyar saat Rainy diculik sindikat perdagangan manusia yang dikendalikan oleh pengusaha licik, Paklong (Joey Iwanga).
Bersama jurnalis Matia (Yanin Vismitananda) dan suaminya, Navin (Joe Taslim), Wang menyusuri jalur investigasi yang mengungkap betapa sindikat itu dilindungi oknum aparat dan menargetkan anak-anak dari komunitas marjinal. Premisnya sederhana—seorang ayah yang berusaha menyelamatkan anaknya—namun dieksekusi dengan energi naratif yang terus memompa adrenalin.
2. Aksi Kinetik dan Koreografi Pertarungan Mematikan
Begitu insiden penculikan terjadi, cerita langsung tancap gas tanpa kompromi. Keputusan Tanigaki memfokuskan kisah pada formula one-man army bisa saja terasa repetitif, tetapi penampilan prima Xie Miao berhasil menepis kekhawatiran itu. Meski minim dialog, ia tampil luar biasa ekspresif: kepanikan seorang ayah hingga ketakutan mencekam dieksekusi sama briliannya dengan manuver fisik yang ia pamerkan.
Setiap arena pertarungan dirancang agar terasa hidup. Objek di sekitar—mulai dari pipa besi hingga perabotan—digunakan sebagai senjata mematikan. Mekanik pertarungan terasa sangat brutal dan berbobot; pukulan mendarat keras, tubuh sang jagoan babak belur, dan pengadegan tak segan menampilkan adegan gore layaknya film slasher. Kombinasi ini mengingatkan pada kelincahan akrobatik ala film klasik Jackie Chan, kedinamisan bela diri waralaba Ip Man, dan kebrutalan lugas The Raid.
Menariknya, Tanigaki piawai menjaga ritme. Di sela gempuran aksi, naskah menyelipkan elemen detektif ringan—pencarian jejak anak hilang—sebagai ruang bernapas krusial bagi penonton, sehingga tensi tidak melelahkan dari awal hingga akhir.
3. Sinergi Emosional antara Xie Miao dan Joe Taslim
Kehadiran Joe Taslim sebagai Navin memberikan nyawa tambahan yang signifikan. Navin menjadi cermin emosional Wang Wei: sama-sama dimotivasi keputusasaan menyelamatkan orang tercinta. Jika Xie Miao memerankan Wang dengan pendekatan layaknya bintang film bisu—mengandalkan gestur fisik dan keheningan—Taslim mengisi ruang tersebut dengan penampilan berlapis dan sangat menyentuh.
Interaksi keduanya selalu memompa energi naratif setiap kali tempo mulai menurun. Mereka tidak hanya memanjakan mata lewat sinergi aksi saat melumpuhkan musuh, tetapi juga membangun kedalaman simpati terhadap perjuangan masing-masing. Penampilan cemerlang ini menegaskan bahwa Joe Taslim adalah aktor yang sangat underrated dengan jangkauan dramatis mumpuni—sebuah argumen kuat mengapa ia pantas mendapat porsi peran yang lebih besar di sinema laga internasional.
4. Kelemahan: Antagonis Klise dan Subplot yang Kurang Matang
Sayangnya, fondasi kokoh pada karakter utama tidak diimbangi oleh jajaran pendukungnya. Antagonis jatuh pada jebakan klise yang terlalu dikarikaturkan, sementara subplot konflik internal keluarga Paklong terasa sangat mentah. Upaya menyisipkan kritik terhadap korupsi sistemik di kepolisian pun dieksekusi dengan dialog kaku dan penggambaran hitam-putih: aparat digambarkan sebagai penjahat super atau pahlawan tanpa cela.
Selain itu, babak penutup sedikit kehilangan pijakan, murni karena paruh pertama film sudah mematok standar adrenalin yang terlampau tinggi. Meski demikian, sangat jarang ada film aksi berdurasi hampir dua jam di era modern yang bisa melaju seefisien ini.
Kesimpulan: Tontonan Wajib bagi Penikmat Aksi Bela Diri
The Furious membuktikan bahwa premis sederhana bisa dieksekusi menjadi tontonan luar biasa di tangan sineas yang memahami esensi koreografi laga. Kenji Tanigaki kembali mengukuhkan diri sebagai salah satu sutradara master di genre ini, sementara penampilan Joe Taslim dan Xie Miao memberikan bobot emosional yang jarang ditemui di film aksi serupa. Bagi pencinta film laga yang merindukan sensasi pertarungan jarak dekat brutal dan presisi, The Furious adalah jawaban yang selama ini dinanti.









