Warga RT 11 RW 07, Gandaria Utara, Jakarta Selatan kembali menghadirkan terobosan teknologi yang langsung menyentuh persoalan sehari-hari. Setelah sebelumnya sukses memasang e-Gate dan GPS Anti Curanmor, kini mereka menyiapkan Smart Geprek, sebuah mesin pres sampah plastik dan pengolah sampah dapur yang dirancang agar memilah sampah terasa lebih ringan, menyenangkan, dan bernilai ekonomi.
Mengenal Smart Geprek, Mesin Pres Sampah Plastik
Ide Smart Geprek berangkat dari kebiasaan warga yang sering menginjak botol plastik agar muat di tempat sampah. Ketua RT 11 RW 07, Imam Basori, menjelaskan bahwa alat ini akan menggantikan tenaga manusia dengan sistem dinamo. “Smart Geprek itu, botol-botol kalau manual kadang digeprek pakai tenaga manusia. Jadi kita nanti menggunakan sistem dinamo yang teknologinya pakai seperti itu,” ujarnya.
Dengan mesin ini, botol plastik dan kemasan serupa bisa dipres secara otomatis. Selain menghemat ruang, proses pengepresan membuat sampah plastik lebih mudah dikumpulkan dan dijual kembali. Inovasi ini sejalan dengan program pilah sampah yang tengah digalakkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, namun dikemas dalam sentuhan komunitas yang lebih lincah dan aplikatif.
Sampah Dapur Jadi Kompos Sehari dengan Teknologi Pengering
Tak hanya plastik, program ini juga menyasar sampah dapur rumah tangga. Limbah sisa makanan dan sayuran akan diolah menjadi kompos menggunakan bantuan teknologi pengering. Selama ini, metode konvensional membutuhkan waktu sekitar 28 hari agar kompos siap panen. Imam menyebut pihaknya ingin memangkas durasi itu drastis. “Kita pengin nanti sampai dryer, pengeringan, nanti kita bisa kelola sampai satu hari bisa kita manfaatkan,” katanya.
Pengering yang akan dipasang di lingkungan RT memungkinkan proses fermentasi berjalan jauh lebih cepat. Hasil kompos bisa dipakai sendiri untuk penghijauan atau dijual sebagai tambahan pendapatan warga. Langkah ini menunjukkan bahwa teknologi bukan cuma urusan alat canggih, melainkan cara untuk membuat pengelolaan sampah lebih efisien dan bernilai tambah.
Kolaborasi dengan Pengepul dan Dinas Lingkungan Hidup
Agar rantai nilai berjalan utuh, pengurus RT sudah menggandeng pengepul sampah swasta dan Dinas Lingkungan Hidup. Koordinasi dilakukan agar hasil pilah, baik plastik terpres maupun kompos, langsung terserap pasar. “Kita sudah koordinasi dengan pengusaha untuk pengepul sampah yang bisa kita produksi kembali. Nantinya dia juga koordinasi sama kita dan juga dari LHK, lingkungan hidup, itu juga bisa ikut kolaborasi dengan kita,” terang Imam.
Dengan jejaring yang terbangun, warga tidak perlu bingung menyalurkan sampah yang sudah dipilah. Pola ini menciptakan ekosistem kecil yang menghidupkan ekonomi sirkular di tingkat RT. Pengepul mendapat pasokan material, warga mendapat insentif, dan lingkungan pun lebih bersih.
Edukasi Sejak Dini Libatkan Sekolah-Sekolah
Smart Geprek bukan sekadar mesin. Program ini dirancang sebagai gerakan edukasi yang akan merambah sekolah-sekolah di sekitar wilayah. Imam menegaskan pentingnya melibatkan pelajar agar kesadaran memilah sampah tumbuh sejak dini. “Kita nanti akan sosialisasi juga setelah kita terapkan di sini ke lingkungan dan juga nantinya kita coba menggandeng sekolahan,” ujarnya.
Rencananya, sesi praktik langsung akan digelar agar siswa bisa melihat sendiri cara kerja mesin pres dan proses pengomposan cepat. Dengan begitu, konsep reduce-reuse-recycle tak lagi abstrak, melainkan bisa dipegang, dipraktikkan, dan ditularkan ke keluarga masing-masing.
Warung Digital UMKM Dukung Ekonomi Warga
Di tengah pengembangan Smart Geprek, RT 11 RW 07 juga terus mematangkan warung digital berbasis UMKM. Inisiatif ini diharapkan menjadi penopang ekonomi warga di kawasan padat penduduk yang sebagian besar berada di segmen menengah ke bawah. Warung tersebut sudah berjalan dan akan dimaksimalkan melalui pemanfaatan platform digital.
Keberadaan warung digital menjadi pelengkap program pilah sampah: saat warga mendapat pemasukan dari hasil daur ulang, mereka bisa langsung membelanjakan atau menabung melalui warung yang dikelola komunitas. Perputaran nilai ekonomi di dalam lingkungan sendiri memperkuat ketahanan warga secara mandiri dan kolektif.
Kesiapan Alat dan Rencana Peluncuran
Dari sisi teknis, Smart Geprek sudah memasuki tahap uji coba di lapangan. Dinamo dan gearbox sudah dibeli dan sedang diotak-atik agar kinerjanya optimal. Imam mengungkapkan optimisme bahwa dalam waktu dekat alat akan selesai dibuat. “Alatnya sudah kita beli, sudah kita buat. Nanti dalam waktu cepat ini kita akan lakukan untuk pembuatan seperti itu,” ujarnya.
Berikut sejumlah poin penting dalam inovasi Smart Geprek yang patut dicermati:
- Mesin pres sampah plastik berbasis dinamo menggantikan pengepresan manual.
- Teknologi pengering mampu menghasilkan kompos hanya dalam satu hari.
- Kemitraan dengan pengepul dan Dinas Lingkungan Hidup memastikan sampah terserap pasar.
- Sekolah dilibatkan sebagai bagian dari edukasi lingkungan jangka panjang.
- Warung digital UMKM melengkapi ekosistem ekonomi warga yang berkelanjutan.
Inisiatif warga RT 11 RW 07 Gandaria Utara menunjukkan bahwa perubahan perilaku terhadap sampah tidak harus menunggu kebijakan besar. Dengan alat sederhana, kolaborasi lokal, dan semangat gotong royong, teknologi bisa menjadi jembatan antara kebersihan lingkungan dan kesejahteraan warga. Smart Geprek bukan sekadar mesin, melainkan bukti bahwa inovasi akar rumput layak dijadikan contoh bagi komunitas lain yang ingin memulai langkah serupa.

