PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memproyeksikan bahwa kebutuhan gas bumi untuk sektor pembangkit listrik akan mengalami pertumbuhan signifikan, mencapai rata-rata 4,5% per tahun hingga tahun 2034. Angka ini menegaskan peran vital gas, khususnya dalam bentuk Liquefied Natural Gas (LNG), sebagai tulang punggung transisi energi nasional di tengah pesatnya lonjakan konsumsi listrik dan masifnya agenda elektrifikasi di berbagai sektor.
Proyeksi dan Pendorong Lonjakan Kebutuhan Gas
Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto, menjelaskan bahwa kenaikan konsumsi ini tidak terlepas dari target nasional untuk meningkatkan kontribusi kelistrikan terhadap total kebutuhan energi primer. Diperkirakan, porsi ini akan melonjak dari 28% pada tahun 2025 menjadi 38% pada tahun 2035.
Ada beberapa motor penggerak utama di balik proyeksi ini. Sektor industri dan transportasi yang kian teraliri listrik, peningkatan konsumsi rumah tangga, hingga pertumbuhan mega-infrastruktur digital seperti pusat data (data center) menjadi faktor kunci yang mendorong permintaan energi. PLN memandang bahwa pasokan listrik yang andal adalah fondasi utama untuk mengakselerasi ekosistem digital dan ekonomi AI nasional.
Perubahan Bauran Energi: LNG Geser Dominasi Gas Pipa
Meski batu bara diperkirakan masih akan menyumbang sekitar 47% dari total produksi listrik pada 2034, porsi gas bumi diproyeksikan akan mengalami kenaikan tajam hingga 2,3–2,7 kali lipat, mencapai 18–23% dari bauran nasional. Ini mencerminkan posisi gas sebagai jembatan menuju energi bersih, mengimbangi peningkatan kapasitas Energi Baru Terbarukan (EBT) yang ditargetkan naik 4,8–5,6 kali lipat.
Salah satu pergeseran signifikan adalah transisi dari ketergantungan pada gas pipa domestik menuju LNG. Proyeksi menunjukkan bahwa pemanfaatan gas pipa justru akan menurun dari 757 BBTUD pada 2026 menjadi 667 BBTUD pada 2034. Sebaliknya, LNG menjadi solusi utama untuk menutup defisit pasokan dan menjaga keandalan sistem, dengan kebutuhan kargo yang diperkirakan melonjak dari 103 kargo menjadi 214 kargo pada periode yang sama.
Mengamankan Pasokan dan Infrastruktur Midstream
Untuk menjamin kelancaran pasokan, PLN EPI tidak hanya bergantung pada mekanisme pasar. Strategi pengamanan energi dilakukan melalui penguatan kontrak jangka panjang, termasuk kerja sama strategis dengan perusahaan global seperti Conrad dan Mubadala. Langkah ini memastikan ketersediaan LNG di tengah penurunan produksi gas domestik secara alamiah.
Tak kalah penting, akselerasi pembangunan infrastruktur midstream sedang gencar dilakukan. Ini mencakup:
- Pembangunan Floating Storage Regasification Unit (FSRU) dan fasilitas regasifikasi di Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, hingga Cilegon.
- Pengembangan klaster gasifikasi di Sumatera-Kalimantan, Sulawesi-Maluku, Papua Utara, dan Nusa Tenggara.
- Pembangunan infrastruktur pipa strategis seperti jalur WNTS-Pemping.
- Peningkatan kapasitas penyimpanan nasional hingga 1,2 juta meter kubik.
Dampak ke Sektor Digital dan Ekonomi
Peningkatan permintaan gas sebagai sumber energi pembangkit listrik memiliki korelasi langsung dengan kesiapan Indonesia menyambut era ekonomi digital. Sektor tertentu seperti pusat data, membutuhkan pasokan listrik yang tidak hanya besar, tetapi juga andal dan berkelanjutan. Pertumbuhan industri pusat data yang masif, termasuk fasilitas-fasilitas dengan kapasitas daya besar, mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap kesiapan infrastruktur kelistrikan nasional.
Tanpa pasokan gas yang stabil, target pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi digital di Asia Tenggara akan sulit tercapai. Oleh karena itu, transisi energi melalui gas bumi bukan sekadar urusan teknokrasi, melainkan sebuah prasyarat pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing tinggi.
Komitmen pada Transisi dan Ketahanan Energi
Pemerintah melalui PLN menjadikan gas sebagai instrumen vital dalam menekan ketergantungan pada Bahan Bakar Minyak (BBM) sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Target keseluruhan kapasitas regasifikasi nasional dicanangkan mampu mencapai 3.850 MMSCFD.
Visi ini dipastikan selaras dengan kebutuhan elektrifikasi hingga ke pelosok negeri. Meski demikian, perlu dicatat bahwa pemenuhan pasokan gas untuk sistem besar seperti Jawa-Bali memiliki tantangan berbeda dibandingkan dengan menghadirkan akses listrik di daerah terpencil yang lebih cocok menggunakan solusi pembangkit berbasis EBT berskala lokal. Integrasi kedua strategi ini akan menentukan wajah kelistrikan Indonesia dalam satu dekade mendatang.
Dengan proyeksi pertumbuhan konsumsi listrik yang bakal melonjak dua kali lipat menjadi 581–584 TWh pada 2034, gas dan LNG bukan lagi sekadar opsi, melainkan keharusan. Keberhasilan mengelola transisi ini akan sangat menentukan kemampuan bangsa dalam menjaga stabilitas sistem kelistrikan sembari mengejar target penurunan emisi dan pertumbuhan ekonomi digital.
