Di balik poster dan trailer Lastri Arwah Kembang Desa yang mencekam, tersimpan pengalaman tak terlupakan dari sang pemeran utama, Hana Saraswati. Pesohor yang memiliki jutaan pengikut di Instagram ini membagikan kesaksian spiritualnya saat bertransformasi menjadi hantu Lastri. Ia mengaku merasakan sensasi yang sangat kuat seolah-olah tubuhnya benar-benar dimasuki oleh karakter yang diperankannya.
Transformasi Menjadi Arwah Penasaran Berlatar 1980-an
Film horor terbaru besutan sutradara Hendri Tivo ini mengambil latar waktu pada dekade 1980-an. Untuk menghidupkan karakter Lastri, Hana Saraswati harus tampil dalam balutan kebaya putih dengan rambut yang disanggul rapi. Penampilan ikonik ini menjadi representasi visual dari arwah penasaran yang menghantui desa.
Trailer film memperlihatkan perjalanan tragis karakter Lastri, mulai dari konflik rumah tangga yang berujung talak oleh sang suami, hingga kematiannya yang membuatnya gentayangan. Bagi Hana, proses mendalami karakter ini bukan sekadar membaca naskah, melainkan sebuah pendekatan emosional yang mendalam.
Kehilangan Jati Diri Saat Kamera Mulai Menyala
Momen paling krusial terjadi ketika proses syuting dimulai. Hana Saraswati menggambarkan pengalaman nyaris di luar nalar saat dirinya sudah mengenakan kostum lengkap sebagai Lastri. Ada sensasi aneh yang ia rasakan ketika identitas pribadinya seakan memudar ditelan karakter.
“Begitu pakai kebaya putih, rambut disanggul, rasanya unreal. Rasanya kayak bukan Hana, kayak jadi Lastri benaran. Apalagi ketika sutradara bilang action, rasanya kayak enggak tersisa sama sekali akunya,” ungkap Hana Saraswati saat ditemui di Kemang, Jakarta.
Kunci Akting Antara Empati dan Pemahaman Naskah
Untuk mencapai pendalaman karakter yang intens tersebut, Hana menerapkan metode yang terkesan sederhana namun fundamental. Ia menekankan pentingnya menghormati naskah sebagai pedoman utama agar akting yang dihasilkan tidak melenceng dari konteks cerita yang dibangun oleh sutradara dan penulis.
“Yang penting baca naskah dengan benar dan tepat konteksnya. Menurutku, itu kunci memainkan peran enggak fals. Apa yang dibutuhkan karakter, aku bisa kasih ke dia,” jelas Hana Saraswati. Setelah memahami teks, ia kemudian membangun peta hubungan antara Lastri dan karakter-karakter lain dalam film tersebut.
Membangun Kengerian Lewat Penampakan yang Menyelinap
Sutradara Hendri Tivo memiliki visi yang unik dalam meramu adegan horor di film ini. Ia tidak ingin menggunakan jumpscare yang tiba-tiba dan murahan. Sebaliknya, Lastri Arwah Kembang Desa dibangun dengan pendekatan psikologis yang membuat rasa takut penonton tumbuh secara perlahan dan menyelinap ke dalam benak mereka.
Pendekatan ini membutuhkan kemampuan akting yang mumpuni dari Hana Saraswati. Penampakan Lastri tidak hanya mengandalkan tata rias dan kostum yang menyeramkan, tetapi juga gestur serta tatapan yang mampu mengirimkan energi mencekam ke layar lebar.
Nasib Tragis yang Mengundang Empati
Terlepas dari statusnya sebagai arwah penasaran yang menakutkan, karakter Lastri memiliki latar kisah yang pilu. Hana Saraswati mengaku sangat berempati pada nasib perempuan desa tersebut. Konflik rumah tangga hingga kematian yang tragis membuat karakter hantu ini memiliki dimensi yang lebih dari sekadar sosok pengganggu.
Keseimbangan antara nuansa horor dan kedalaman cerita inilah yang diharapkan bisa menjadi daya tarik utama bagi para penonton film Indonesia. Dengan pengalaman spiritual dan kedalaman emosi yang dihadirkan oleh para pemainnya, film ini mencoba menawarkan tontonan horor yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan.
Film ini menjadi bukti bahwa dedikasi seorang aktor bisa melampaui batas fisik dan psikologis. Bagi para penggemar film horor, kesaksian Hana Saraswati ini menjadi pemicu penasaran untuk menyaksikan sendiri bagaimana ia menghidupkan arwah Lastri yang menghantui layar bioskop.
