
Betrand Peto Jadi Tempat Curhat Ruben Onsu yang Kerap Galau
Di balik tawa lepas yang sering ia tampilkan di layar kaca, Ruben Onsu ternyata menyimpan kegelisahan yang mendalam. Betrand Peto, putra angkat yang selama ini menjadi kebanggaannya, mengungkapkan bahwa sang ayah kerap merasa galau dan sangat membutuhkan teman bicara di tengah tekanan hidup yang ia hadapi. Kini, Onyo—sapaan akrab Betrand—menjadi sosok pendengar utama sekaligus penguat moral bagi presenter kondang tersebut.
Ruben Onsu di Mata Sang Anak
Betrand Peto tak menampik bahwa ada perbedaan signifikan antara Ruben Onsu yang dikenal publik dan Ruben Onsu saat berada di rumah. Jika di televisi ia dikenal sebagai sosok yang enerjik dan penuh canda, di rumah justru sisi rapuhnya yang lebih dominan terlihat. Onyo menyebut ayahnya berada dalam fase di mana ia sangat membutuhkan kehadiran seseorang untuk mendengarkan segala keluh kesahnya.
“Ayah kalau dibilang galau, galau. Dia itu lagi butuh orang di mana dia harus dengar ceritanya. Mau ke siapa orangnya? Ke aku,” ujar Betrand Peto di Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026). Pernyataan ini menunjukkan bahwa di tengah badai cobaan yang menerpa, Betrand memilih untuk tidak meninggalkan sang ayah sendirian.
Menjadi Pendengar Setia di Tengah Tekanan
Menyadari kondisi psikologis ayahnya, Betrand berinisiatif mengajak Ruben Onsu berbicara dari hati ke hati. Ia kerap melontarkan ajakan sederhana namun penuh makna untuk memulai percakapan yang mendalam. “Yah ayo kita mengobrol yuk, kita cerita-cerita apa yang Ayah rasakan sekarang, apa yang lagi Ayah alami sekarang’. Gitu. Ayah yang kuat ya,” akunya menirukan percakapan mereka.
Sebagai seorang anak, Onyo memahami bahwa sang ayah tetaplah manusia biasa yang memiliki batas kesabaran. Ia sadar bahwa karakter ceria yang ditampilkan di dunia hiburan hanyalah bagian dari tuntutan profesionalisme. Onyo bahkan meminta publik untuk melihat kembali bagaimana ayahnya dulu menghibur banyak orang dengan berbagai tingkah kocaknya, termasuk saat menggunakan properti unik seperti piring atau celana pendek berwarna pink.
Dampak Psikologis yang Dirasakan Ruben Onsu
Betrand Peto juga membenarkan bahwa tekanan yang dihadapi Ruben Onsu berdampak cukup serius pada kenyamanan pribadinya. Rasa tidak nyaman itu bahkan membuat sang presenter sempat enggan untuk mengunjungi tempat-tempat umum. Onyo mengonfirmasi kabar bahwa ayahnya mengalami ketakutan untuk sekadar pergi ke mal, sebuah aktivitas normal yang kini terasa berat bagi Ruben.
“Ya, begitulah yang Ayah rasain sekarang,” imbuh Onyo singkat saat menanggapi kondisi tersebut. Pengakuan ini memperlihatkan bahwa polemik yang terjadi tidak hanya menyita perhatian publik, tetapi juga menyisakan luka psikologis yang nyata bagi Ruben Onsu.
Komitmen Betrand untuk Kesehatan Sang Ayah
Di tengah situasi yang tidak mudah, Betrand Peto berkomitmen untuk tetap tegar dan tidak menambah drama. Fokus utamanya saat ini adalah memastikan sang ayah tetap sehat dan tidak jatuh sakit akibat beban pikiran yang terus menumpuk. Ia memilih untuk menjadi sumber semangat agar Ruben Onsu bisa melewati masa-masa sulit ini dengan lebih ringan.
“Aku bilang sama Ayah mau gimana ya, yang penting untuk ke depannya Ayah sehat-sehat terus, ‘Ayah aku, enggak mau Ayah sakit’. Pokoknya Ayah harus terus semangat’, gitu,” pungkas Betrand Peto. Dukungan moral dari seorang anak ini menjadi bukti bahwa di balik citra keluarga selebritas yang gemerlap, ada ikatan emosional yang kuat yang justru muncul di saat-saat tersulit.
Pelajaran tentang Kesehatan Mental di Balik Gemerlap Hiburan
Kisah Ruben Onsu dan Betrand Peto ini memberikan gambaran nyata bahwa profesi sebagai penghibur tidak menjamin seseorang terbebas dari rasa galau dan tekanan mental. Justru, tuntutan untuk selalu tampil ceria di depan kamera sering kali membuat perasaan asli harus dipendam dalam-dalam. Kehadiran keluarga yang suportif, seperti yang ditunjukkan oleh Betrand, menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga kesehatan mental para figur publik.
Peran Onyo sebagai pendengar yang baik menunjukkan bahwa dukungan tidak selalu harus datang dari solusi besar atau nasihat panjang. Terkadang, kehadiran untuk sekadar mendengarkan sudah menjadi obat yang paling ampuh bagi hati yang sedang gundah. Ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa di balik setiap senyum yang dipaksakan, mungkin ada seseorang yang sangat membutuhkan teman bicara.








