Logo GoodSide Final Revisi Logo GoodSide Final Revisi
  • Home
  • Anime & Manga
  • Film
  • Gadget
  • Game
  • Music
NEWSLETTER
Font ResizerAa
GoodsideGoodside
  • Anime & Manga
  • Film
  • Gadget
  • Game
  • Public Figure
  • Relationship
Search
  • Format
    • Article
    • Trending
    • News
    • Video
    • Infographic
Follow US
© Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Goodside > Teknologi > Kemenekraf dan GBCI Dorong Konsep Bangunan Hijau lewat Kolaborasi Kreatif
Teknologi

Kemenekraf dan GBCI Dorong Konsep Bangunan Hijau lewat Kolaborasi Kreatif

By
goodside
16 hours ago
7 Min Read
Share

Pemerintah melalui Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) memperkuat komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan dengan menggandeng Green Building Council Indonesia (GBCI). Dalam audiensi yang berlangsung di Jakarta, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menekankan bahwa isu lingkungan dan konsep bangunan hijau harus dikomunikasikan dengan cara yang lebih dekat dengan masyarakat, bukan sekadar jargon teknis atau sertifikasi gedung mewah. Kolaborasi kreatif ini diharapkan mampu menjadikan keberlanjutan sebagai gaya hidup yang mudah dipahami dan diadopsi oleh semua kalangan, terutama generasi muda.

Contents
  • Membumikan Isu Keberlanjutan melalui Pendekatan Kreatif
  • Green Building Festival dan Inisiatif “Goes to Kampung”
  • Dampak Nyata: Dari Sertifikasi Gedung hingga Perubahan Masyarakat
  • Peran Teknologi dan Green Financing dalam Bangunan Rendah Karbon
  • Sinergi Ekonomi Kreatif dan Keberlanjutan Menuju Indonesia Emas 2045

Pertemuan tersebut menjadi langkah awal untuk merancang berbagai program edukasi publik yang menggabungkan prinsip ramah lingkungan dengan ekspresi kreatif. Mulai dari film, aktivitas komunitas, hingga pelibatan figur publik, semua akan dioptimalkan agar pesan tentang pentingnya bangunan hijau tidak hanya bergema di kalangan profesional, tetapi juga menyentuh keseharian warga.

Membumikan Isu Keberlanjutan melalui Pendekatan Kreatif

Irene Umar menyoroti bahwa anak muda kini memiliki kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan, namun seringkali informasi yang tersedia terasa eksklusif dan sulit dicerna. “Kita ingin sustainability menjadi sesuatu yang membumi dan mudah dipahami. Tinggal bagaimana kita menghadirkan ruang kolaborasi dan pendekatan kreatif supaya pesan keberlanjutan ini semakin luas diterima,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa ekonomi kreatif bisa menjadi jembatan antara konsep teknis bangunan hijau dengan kehidupan sehari-hari.

Dengan memanfaatkan medium seperti film dokumenter pendek, instalasi seni interaktif, atau kampanye digital yang melibatkan influencer, edukasi keberlanjutan diharapkan tidak lagi terasa menggurui. Pendekatan ini sejalan dengan peran ekonomi kreatif sebagai the new engine of growth yang dicanangkan menuju Indonesia Emas 2045. Ketika masyarakat memahami bahwa tindakan kecil seperti menghemat energi atau mengelola sampah berkontribusi pada lingkungan yang lebih sehat, perubahan perilaku akan terjadi secara organik.

Green Building Festival dan Inisiatif “Goes to Kampung”

Salah satu agenda konkret yang dibahas adalah rencana penyelenggaraan Green Building Festival pada September 2026. Festival ini dirancang sebagai ruang edukasi publik yang meriah, bukan sekadar pameran teknologi mahal. GBCI juga memperkenalkan program “Green Building Goes to Kampung” yang bertujuan membawa praktik ramah lingkungan ke tingkat akar rumput. Inisiatif ini akan mengajarkan masyarakat di perkampungan cara membangun atau merenovasi rumah dengan prinsip hijau yang sederhana dan aplikatif.

“Green building jangan hanya dipandang sebagai sertifikasi gedung besar saja. Kita ingin bagaimana konsep keberlanjutan ini bisa dipahami sampai ke tingkat masyarakat paling kecil,” tambah Irene. Dengan pendekatan yang langsung menyentuh kebutuhan warga—seperti penghematan listrik, ventilasi alami, atau pemanfaatan air hujan—festival dan program turun kampung ini diyakini mampu mengubah persepsi bahwa bangunan hijau itu mahal dan eksklusif.

Dampak Nyata: Dari Sertifikasi Gedung hingga Perubahan Masyarakat

Selama ini, sertifikasi bangunan hijau sering diasosiasikan dengan gedung perkantoran kelas atas atau pusat perbelanjaan modern. Padahal, prinsip yang sama bisa diterapkan di rumah tinggal, sekolah, dan fasilitas publik. GBCI yang berdiri sejak 2009 dan merupakan bagian dari World Green Building Council di lebih dari 70 negara, memiliki fokus pada pengembangan industri bangunan hijau melalui sertifikasi, pelatihan, dan penguatan pasar. Namun, Ketua Umum GBCI Ignesjz Kemalawarta menegaskan bahwa misi mereka kini melampaui sekadar plakat sertifikasi.

“Fokus kami adalah bagaimana gedung, kawasan, dan industri bisa menerapkan prinsip hijau sesuai kaidah keberlanjutan. Karena itu kami menyambut baik peluang kolaborasi bersama Kementerian Ekraf untuk memperluas edukasi dan sosialisasi sustainability kepada masyarakat,” kata Ignesjz. Kolaborasi ini akan menyasar perubahan perilaku di level individu, karena ketika masyarakat merasakan langsung manfaat seperti tagihan listrik yang lebih rendah dan udara yang lebih bersih, adopsi praktik hijau akan semakin cepat.

More Read

Bocoran iPhone 17e: Spesifikasi, Prediksi Harga, dan Jadwal Rilis
Misteri Medan Magnet Ganymede Terkuak: Inti Bulan Jupiter Masih Bertumbuh
TikTok Luncurkan Langganan Bebas Iklan di Inggris, Harga Rp94 Ribuan

Peran Teknologi dan Green Financing dalam Bangunan Rendah Karbon

Dalam diskusi tersebut, GBCI juga memaparkan potensi pengembangan green financing dan pemanfaatan teknologi sensor pintar untuk efisiensi energi. Teknologi ini memungkinkan gedung memonitor konsumsi listrik, air, dan kualitas udara secara real-time, sehingga penghuni atau pengelola bisa mengambil keputusan berbasis data untuk mengurangi jejak karbon. Penguatan ekosistem bangunan rendah karbon ini sejalan dengan target pengurangan emisi nasional yang semakin ambisius.

Selain itu, konsep green financing—seperti kredit dengan bunga rendah untuk renovasi rumah hemat energi atau obligasi hijau untuk proyek properti berkelanjutan—diharapkan dapat mempercepat transisi. Dengan dukungan kebijakan dari Kemenekraf, instrumen keuangan ini bisa dikemas dalam program yang lebih menarik bagi pelaku industri kreatif, misalnya studio desain, arsitek muda, atau startup teknologi properti.

Sinergi Ekonomi Kreatif dan Keberlanjutan Menuju Indonesia Emas 2045

Pertemuan antara Kemenekraf dan GBCI ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah sinyal bahwa pemerintah melihat keberlanjutan sebagai pilar penting dalam transformasi ekonomi. Ekonomi kreatif yang bernilai tambah tinggi dapat menjadi motor penggerak jika diintegrasikan dengan prinsip bangunan hijau. Contohnya, desain interior ramah lingkungan, material daur ulang yang diolah menjadi produk bernilai seni, atau konten digital yang mengedukasi tentang gaya hidup minim emisi.

Berikut beberapa manfaat yang diharapkan dari kolaborasi ini:

  • Meningkatkan literasi publik tentang bangunan hijau melalui medium kreatif seperti film, seni, dan media sosial.
  • Mendorong adopsi praktik ramah lingkungan di tingkat rumah tangga hingga kawasan perkotaan.
  • Memperkuat ekosistem bangunan rendah karbon dengan dukungan teknologi sensor pintar dan green financing.
  • Menciptakan lapangan kerja baru di sektor ekonomi kreatif berbasis keberlanjutan.
  • Mendukung target pengurangan emisi nasional dan pencapaian Indonesia Emas 2045.

Dengan melibatkan generasi muda dan komunitas, program-program ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan. Karena pada akhirnya, keberhasilan pembangunan hijau tidak hanya diukur dari jumlah gedung bersertifikat, tetapi dari seberapa besar perubahan positif yang dirasakan oleh masyarakat luas.

Kolaborasi antara Kemenekraf dan GBCI membuktikan bahwa isu bangunan hijau bisa dikemas secara menarik dan inklusif. Ketika kreativitas bertemu dengan keberlanjutan, lahirlah gerakan yang tidak hanya melindungi bumi, tetapi juga memperkaya budaya dan ekonomi. Inilah saatnya masyarakat Indonesia melihat bangunan hijau bukan sebagai kemewahan, melainkan sebagai kebutuhan bersama yang bisa dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan terdekat.

Author
goodside

goodside

TAGGED:bangunan hijauekonomi kreatifGBCIgreen buildingkeberlanjutanKemenekrafkolaborasi kreatif
Share This Article
Facebook Flipboard Email Print
Share
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terbaru

Telkom Cetak Total Shareholder Return 35,7% di 2025, Transformasi TLKM 30 Jadi Kunci
Bisnis Digital
Rahasia Genetik Ikan Herring Bertahan di Air Tawar Laut Baltik
Sains
Jet Tempur Rafale F4 Indonesia: Kemampuan Canggih Generasi Terbaru
Teknologi
6,4 Juta Jam Kerja Tanpa Kecelakaan, Proyek LRT Velodrome-Manggarai Capai 92 Persen
Teknologi

You Might Also Like

Honor foldable phone
NewsTeknologi

Honor Uji Coba Ponsel Lipat Lebar dengan Snapdragon 8 Elite Gen 6

1 day ago

Pemprov Jatim dan BRIN Perkuat Hilirisasi Riset Teknologi Tepat Guna

16 hours ago

Harkitnas 2026: Pemerintah Ajak Jaga Generasi Muda dari Ancaman Ruang Digital

14 hours ago

Kepala BRIN: Kebijaksanaan Peneliti Tak Tergantikan AI

18 hours ago
Logo GoodSide Final Revisi Logo GoodSide Final Revisi

Goodside.id adalah referensi utama Millennial & Gen Z di Indonesia tentang film, teknologi, gadget, musik, gaya hidup, kecantikan hingga travelling.

Follow Socials

© 2026 Goodside. All Rights Reserved.

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?