
Kinerja BUMN Meroket: Pelindo hingga Himbara Cetak Pertumbuhan Kuat
JAKARTA — Kinerja sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menunjukkan pertumbuhan signifikan hingga pertengahan tahun 2026. Transformasi yang digulirkan oleh Badan Pengaturan (BP) BUMN dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dinilai menjadi motor utama penguatan tata kelola dan akuntabilitas yang berdampak langsung pada lonjakan laba perusahaan pelat merah.
Transformasi Berbasis Data Dorong Akuntabilitas
Perubahan fundamental dalam pengelolaan BUMN ditegaskan langsung oleh Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria. Ia menjelaskan bahwa pendekatan pengelolaan kini diarahkan lebih akuntabel dan berbasis data. Kebijakan ini diterapkan agar informasi kinerja yang disajikan kepada publik benar-benar akurat dan mencerminkan kondisi nyata di lapangan.
Dony menyebut transformasi ini bukan sekadar perubahan administratif, melainkan upaya membangun fondasi bisnis yang sehat. Hasilnya, laporan capaian kinerja yang disusun mampu memberikan gambaran kontribusi riil BUMN terhadap perekonomian nasional tanpa bias.
Lompatan Laba Pelindo dan Pupuk Indonesia
Sektor logistik dan pangan menjadi saksi nyata hasil positif transformasi ini. PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mencatatkan lompatan laba sangat tinggi. Berdasarkan laporan unaudited hingga Mei 2026, laba tahun berjalan Pelindo mencapai Rp2,01 triliun. Capaian ini melejit 94 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kinerja yang lebih impresif justru datang dari Pupuk Indonesia Group. Perusahaan vital penopang ketahanan pangan ini membukukan laba bersih sebesar Rp6,70 triliun. Angka tersebut meroket hingga 230 persen secara tahunan (year-on-year). “Capaian ini menunjukkan bahwa transformasi BUMN mulai memberikan hasil yang nyata,” ujar Dony.
PLN dan Pertamina Tumbuh di Tengah Dinamika Global
Kinerja positif juga ditorehkan oleh PT PLN (Persero). Di tengah tekanan dinamika ekonomi global serta berbagai bencana alam yang terjadi sepanjang 2025, perusahaan listrik negara ini tetap mampu mencatatkan pendapatan sebesar Rp582,68 triliun. Jumlah itu tumbuh 6,84 persen dari tahun 2024 yang mencapai Rp545,38 triliun.
Sementara itu, PT Pertamina (Persero) memperkuat posisinya di kancah regional. Pendapatan Pertamina tercatat sebesar US$70,89 miliar dengan laba mencapai US$3,35 miliar atau naik 7,2 persen dari tahun sebelumnya. Prestasi ini turut mengantarkan Pertamina masuk dalam peringkat tiga besar Fortune Southeast Asia 500.
Himbara: Pilar Perbankan dengan Pertumbuhan Sehat
Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) tak mau ketinggalan. Kinerja keuangan kuartal I 2026 menunjukkan pertumbuhan yang solid dan sehat. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) memimpin perolehan laba bersih sebesar Rp15,5 triliun, tumbuh 13,7 persen. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membuntuti ketat dengan laba Rp15,4 triliun atau naik 16,6 persen, disertai rasio ROE 22,1 persen dan CAR 19,7 persen yang terjaga.
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatatkan kenaikan laba bersih 5,2 persen menjadi Rp5,6 triliun, didukung pendapatan bunga bersih dan non-bunga. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) bahkan mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 22,6 persen menjadi Rp1,11 triliun, didorong oleh transformasi digital dan pembiayaan perumahan. Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyoroti bahwa kapitalisasi pasar gabungan bank-bank ini bisa mencapai Rp1.100 triliun, setara dengan 10 persen nilai seluruh perusahaan nasional.
Peran Sosial dan Kehati-hatian di Balik Kekuatan Bisnis
Meski bisnis bertumbuh, arahan Presiden Prabowo Subianto tetap menjadi pegangan. Rosan menegaskan bahwa Himbara tidak boleh hanya dilihat sebagai entitas bisnis semata. Kehadiran bank-bank pelat merah ini harus mampu membuka akses seluas-luasnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Lebih lanjut, Rosan menekankan bahwa penyaluran kredit dan dukungan terhadap program pemerintah wajib dijalankan dengan prinsip profesionalitas. “Hal yang paling penting adalah semuanya dijalankan dengan asas kehati-hatian secara profesional, dan kehadiran Himbara ini benar-benar harus dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya.
Kinerja moncer berbagai BUMN ini menjadi sinyal positif bagi perkembangan fundamental ekonomi nasional. Dengan kian sehatnya pengelolaan korporasi negara, diharapkan kepercayaan publik, investor, serta pasar global terhadap ekonomi Indonesia kian kokoh ke depannya.








