Jakarta, CNN Indonesia — Film aksi Hong Kong The Furious yang disutradarai Kenji Tanigaki langsung mencuri perhatian publik begitu tayang perdana pada 12 Juni 2026. Dipadati nama Mo Tse dan Joe Taslim, film ini berhasil menuai pujian tinggi dari para kritikus global berkat adegan pertarungan yang memukau.
Rating Fantastis di Rotten Tomatoes
Sejak dirilis serentak di Amerika Serikat dan Hong Kong, The Furious langsung mencatatkan prestasi cemerlang di laman agregasi ulasan Rotten Tomatoes. Hingga Senin (15/6), film ini meraup status “Fresh” dengan skor Tomatometer 97 persen dari 109 ulasan kritikus. Sementara itu, Popcornmeter—tolok ukur dari penonton—memberikan nilai 95 persen berdasar lebih dari 500 suara. Angka ini menempatkan The Furious sebagai salah satu film aksi dengan penerimaan kritis terbaik tahun ini.
Pujian untuk Koreografi Pertarungan
Kunci keberhasilan film ini terletak pada adegan perkelahian yang dikoreografikan secara mematikan. Matt Donato dari IGN Movies menulis, “The Furious menantang film aksi lainnya tahun ini untuk menjadi sebrutal, seganas, dan sekeren ini.” Guy Lodge dari Variety menyebutnya sebagai “pencapaian luar biasa dalam koordinasi fisik massal” sehingga kekurangan pada karakter dan narasi menjadi terabaikan.
Pujian serupa datang dari Fico di CineXpress yang menyamakan nuansa film ini dengan perpaduan Taken dan The Raid. Sementara Shakyl Lambert dari CG Magazine bahkan melabeli adegan puncak di dalam kantor polisi sebagai “salah satu tampilan kekerasan sinematik terhebat yang pernah ditampilkan di layar lebar.”
Kelemahan di Sisi Cerita
Meski banjir pujian untuk aksi, sejumlah kritikus menyoroti kelemahan naskah yang ditulis Mak Tin-shu bersama tim. Brian Tallerico dari RogerEbert.com blak-blakan: “Dialognya sangat kacau, alur ceritanya konyol, dan tidak akan ada yang peduli karena Tanigaki telah merancang, mengoreografikan, dan mengeksekusi beberapa adegan pertarungan paling mengesankan dalam beberapa tahun terakhir.”
Kelly Vance dari East Bay Express menilai film ini tidak menawarkan hal baru secara naratif, sementara David Nusair dari Reel Film Reviews berkomentar bahwa film akan lebih baik dengan durasi 90 menit saja. Komentar pedas ini justru menunjukkan bahwa kekuatan utama The Furious memang bertumpu pada kemasan aksi yang energik.
Sinopsis The Furious
The Furious mengikuti perjalanan Wang Wei (Mo Tse), seorang ayah yang dunianya runtuh setelah putrinya diculik sindikat perdagangan manusia. Ketika pihak berwenang tak kunjung memberi jalan, ia memutuskan untuk memburu sendiri para penculik. Dalam pencariannya, ia bertemu Navin (Joe Taslim), jurnalis yang juga memiliki dendam pribadi karena istrinya menjadi korban jaringan yang sama. Keduanya pun bahu-membahu mengungkap kejahatan lintas wilayah yang dilindungi oleh oknum berkuasa.
Mengapa The Furious Layak Masuk Radar
Dengan dominasi pujian yang hampir mutlak terhadap sisi laga, The Furious menjadi sajian yang harus ditonton bagi penggemar film bela diri. Performa intens Mo Tse dan Joe Taslim semakin memperkuat daya pukau film ini. Meski cerita tak secemerlang koreografinya, pengalaman menontonnya tetap menjanjikan kepuasan tersendiri—terutama bagi yang mendambakan pertarungan brutal dan sinematik.
Film ini mengingatkan bahwa kejujuran visual dalam aksi bisa menjadi penggerak utama antusiasme penikmat film.









