
Demi Nadia, Marshanda Riset Mendalam untuk Film Saat Aku Bersuara
Liputan6.com, Jakarta – Marshanda kembali ke layar lebar dengan peran yang menuntut keberanian emosional dan kedalaman akting. Dalam film Saat Aku Bersuara, ia memerankan Nadia, seorang pengacara yang hidupnya jungkir balik setelah menjadi korban pemerkosaan oleh dua pria bertopeng. Peristiwa traumatis itu mendorongnya untuk membuka suara melalui tulisan di blog yang viral, sebuah langkah yang menjadi titik awal perjuangan mencari keadilan.
Lebih dari Sekadar Peran
Bagi Marshanda, karakter Nadia bukanlah sekadar pekerjaan akting biasa. Demi menghidupkan karakter tersebut, ia melibatkan pengalaman emosional pribadinya. Proses ini menggali beragam emosi kompleks, mulai dari amarah, trauma, kesedihan, hingga secercah harapan yang muncul setelah melewati perjalanan panjang yang melelahkan.
Menariknya, dari semua emosi itu, harapan justru menjadi yang paling sulit untuk dimainkan. “Nadia sosok yang tetap mencoba berharap, meski tidak tahu apakah perjuangannya akan membuahkan keadilan,” ungkap Marshanda di Jakarta pada awal pekan ini. Pernyataan ini menegaskan dilema psikologis yang dihadapi banyak penyintas kekerasan seksual di dunia nyata.
Riset Mendalam dan Proses Membangun Karakter
Untuk mendalami perannya, Marshanda tidak hanya mengandalkan intuisi. Ia melakukan riset mendalam dengan mencari banyak informasi dan berbincang dengan orang-orang yang pernah mengalami kekerasan serupa. Langkah ini menjadi fondasi kuat sebelum ia masuk ke dalam sisi mental karakter Nadia.
Proses reading bersama sutradara Sonu Samtani dan aktor Rifnu Wikana menjadi ajang diskusi penting. Marshanda juga mendapat rekomendasi film luar negeri bertema serupa sebagai referensi visual. Namun, ia memilih untuk tidak menonton semuanya. “Aku takut jadi mirip dengan yang sudah ada, sementara ini kan tentang Nadia,” jelasnya, menunjukkan komitmennya untuk menciptakan interpretasi karakter yang orisinal.
Gerakan #NoMoreSilence: Dari Layar ke Realitas
Saat Aku Bersuara tidak hanya berhenti sebagai tontonan. Di balik produksinya, film ini membawa tagar #NoMoreSilence. Tagar ini menjadi cerminan nyata dari ribuan suara perempuan Indonesia yang selama ini terjebak dalam budaya bungkam, takut untuk bicara karena khawatir tidak dipercaya, atau dipersalahkan atas aib yang bukan milik mereka.
Penulis naskah Tisa TS menegaskan bahwa film ini memiliki misi yang lebih besar. “Kita tidak cuma menonton film sebagai hiburan, tetapi juga menyaksikan sebuah gerakan untuk membuat orang-orang berhenti bungkam. Segala sesuatu yang selama ini dibungkam, tidak boleh terjadi lagi,” tegasnya. Senada dengan itu, sutradara Sonu Samtani menambahkan keyakinan bahwa ketika perempuan berani bersuara dan bangkit, hal itu akan menjadi fenomena yang mampu mengubah segalanya.
Ketekunan di Balik Layar
Lahirnya film ini bukanlah proses yang singkat. Ini adalah buah dari ketekunan luar biasa. Naskahnya ditulis dan direvisi hingga 18 kali sebelum mencapai format final. Proses syutingnya sendiri berlangsung selama empat tahun, termasuk sempat terhenti sementara oleh pandemi Covid-19. Meski begitu, tidak ada satu pun adegan yang dikorbankan demi mengejar target waktu.
Seluruh pemain dan kru berkomitmen menjaga keutuhan cerita dari awal hingga akhir. Hasilnya, Saat Aku Bersuara hadir sebagai sebuah film berdurasi 85 menit yang tidak hanya menyentuh secara emosional, tetapi juga kuat secara naratif. Film ini menawarkan drama personal, ketegangan hukum, dan refleksi sosial yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
Karya ini menjadi pengingat bahwa sinema memiliki kekuatan untuk memantik diskusi penting tentang keadilan gender. Dengan berani mengangkat tema yang sering dianggap tabu, film ini mengajak penonton untuk tidak menutup mata terhadap perjuangan para penyintas yang selama ini kerap dipaksa diam.








